Perkara Karakter Manusia Sebagai Dasar Penilaian Diri

 

https://chichacha.netlify.com/post/2018-05-20-16-personalities-with-circizle_files/figure-html/fun_stuff-1.png


    Seseorang yang kebanyakan orang anggap tidak special, yang tidak berada di kubu kanan maupun kiri alias netral, yang tidak condong pada salah satu sisi, dan cenderung berada di tengah-tengah, memang sekiranya pantas di sebut tidak special. Dia adalah seorang ambivert. Seseorang dengan karakter yang paling banyak ditemukan di dunia. Mereka tidak langka, tidak menonjol, pun tidak sulit ditemukan layaknya seorang introvert dan ekstrovert yang sejatinya memang sudah dikategorikan dalam kubu special.

    Setelah menjalani sebanyak dua kali tes kepribadian melalui skor MBTI (16 personalities), saya selalu mendapatkan hasil ENTJ. Si ENTJ ini identik dengan karakternya yang lebih ekstrovert. Terbukti, saya mendapati sisi ekstrovert  saya sebanyak 61% dengan sisi introvert 39%. Dikatakannya role saya itu an analyst. Dan saya memanglah seseorang yang gemar menganalisis segala sesuatu. Saya gemar mencari tau sesuatu sampai mengkorek sedalam-dalamnya, kecuali tidak dengan urusan orang lain. Bisa dikatakan saya mempercayai metode tes MBTI tersebut sebanyak 97%.

    Saya belum bisa menyebut diri saya bahwa saya fully ekstrovert, karena melihat persentasenya saja belum bisa dikategorikan an extroverter. Menurut saya, karakter seseorang akan berubah seiring bertambahnya usia seseoramg tersebut. Juga, karakter bisa saja berubah dikarenakan oleh beberapa faktor seperti pengaruh lingkungan, pengalaman, dan pembelajaran hidup yang pernah seseorang tersebut lalui selama fase kehidupnya. Maka dari itu, sebaiknya melakukan beberapa kali tes dengan rentang waktu yang cukup berbeda jauh.

    Seseorang dengan karakter introvert dan ekstrovert sering kali mendapat pengakuan publik bahwa mereka special. Mereka berkarakter jelas dan tidak ambiguitas. Mereka tidak terkatung layaknya seorang ambivert. Mereka bisa memilih, mereka seharusnya ingin condong ke mana. Namun lihatlah si ambivert, dia seperti seseorang yang tidak punya kepercayaan diri. Dia sumbang. Dia bahkan bingung dan terkesan tidak bisa memilih sisi mana yang harus dia dominasi. Karena kenetralannya, tidak heran ambivert sering kali merasa terabaikan karena sifatnya yang tidak mencolok di muka umum. Alhasil ambivert jarang di sorot, bahkan jarang diketahui.

     Ketika pembahasan karakter booming pada pertengahan 2019 hingga sekarang, si introvert dan ekstrovert ini bagaikan musisi billboard yang bertengger di urutan No.1 hingga berminggu-minggu. Mereka berjaya dan dikenal baik oleh khalayak ramai. Mereka top search engine di berbagai platform. Mereka seolah-seolah topik yang berbobot untuk didiskusikan oleh para milenial dan gen Z yang mempunyai daya capability di atas rata-rata. Kenapa? Apakah mereka se-special itu?  Yes, they are.

    Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, merekalah karakter yang paling jelas. Orang-orang akan cepat mengenali mana kala dirinya seorang introvert atau ekstrovert, karena kedua karakter tersebut sangat bertolak belakang berdasarkan dari ciri-ciri yang telah di elaborasi. Merekalah pemeran utamanya. 

    Ketika seseorang menyebut diri mereka seorang introvert atau ekstrovert, akan ada rasa keyakinan dalam diri mereka bahwa karakter mereka absolut. Tapi tidak dengan seorang ambivert. Mereka terkesan abstrak dan absurd. Barangkali seseorang akan melontarkan beberapa pertanyaan terkait ambivert. Pertanyaan seperti :

Itu bagaimana?

Lalu? Sebenarnya kamu seperti apa?

Oh netral? Biasalah gitu ya…

    Belum pernah saya temukan orang yang mengaggumi karakter yang netral dan biasa saja karena publik akan berfokus pada karakter partisan atau condong pada satu sisi. Publik terkadang menilai kenetralan adalah sesuatu yang tidak bervalue. Lalu apakah seorang ambivert memang terlahir tidak special? Apakah dia benar-benar tidak bisa memilih ingin berada di kubu yang mana? Apakah dia seorang pengecut? Tidak. Dia bukanlah seorang pengecut. Namun itu lah key point yang dia dapatkan, netral dan seimbang.

    Saya tau bahwa banyak sekali orang merasa dirinya tidak special, terbuang, tidak bermakna, bahkan tidak ada apa-apanya di mata masyarakat. Dan biasanya orang-orang tersebut memang dari kalangan orang yang berkarakter ambivert dengan skor introvert dan ekstrovertnya berselisih tidak banyak.

    Selain si ambivert, si introvert juga tidak jarang merasa diri mereka tidak special karena karakter mereka yang cenderung melankolis. Berbeda dengan si ekstrovert yang terkenal dengan pembawaanya yang lebih energetic dan ceria.

    Beberapa introverter justru mengagumi para ekstroverter karena mereka kerap kali disegani oleh banyak orang, diakui, mudah berbaur, lugas, dan tidak jarang menjadi fokus publik. Namun pada beberapa kondisi, antara introvert dan ekstrovert justru berbenturan karakter satu sama lain.

    Jika membicarakan ketiga perbedaan karakter tersebut, sebenarnya tidak ada karakter yang mendominasi dengan kata lain special, karena korelasi antar ketiganya menciptakan karakter yang sebenarnya bersimbiosis mutualisme. Setiap karakter mempunyai sisi yang yang tidak dimiliki oleh karakter lainnya. Setidaknya kita harus mulai untuk berhenti melabeli diri bahwa kita tidak special di mata orang lain. Because you are special by your own.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer