Pacaran Toxic
Pacaran toxic, mungkin sudah tidak asing lagi untuk di dengar akhir-akhir ini. Sempat booming di kalangan milenial lalu menyebar luas pada gen Z, X, Y, baby boomers, dan lainnya. Kata toxic menjadi sering di gunakan dalam konteks yang mengacu pada hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri.
Walaupun bagi sebagian orang sudah mengetahui apa itu toxic, tapi sebenarnya masih ada juga yang tidak terlalu paham arti dari toxic tersebut. Ini berdampak pada pasangan yang sedang menjalani hubungan pacaran kerap kali tidak sadar bahwa hubungan yang mereka jalani sebenarnya toxic.
Toxic berasal dari kata Bahasa Inggris yang artinya “beracun”. Sedangkan pacaran diartikan dengan “berhubungan”, yaitu
terbentuknya suatu hubungan romantis antara laki-laki dan perempuan untuk
memenuhi hasrat seksual mereka. Bisa juga di artikan sebagai suatu tahapan
awal untuk membangun sebuah komitmen sebelum menuju pada hubungan
yang lebih sakral yang disebut pernikahan. Setiap orang tentunya mempunyai
definisi masing-masing terkait pacaran. Singkatnya, Pacaran Toxic adalah
hubungan yang beracun.
Hubungan toxic (toxic relationship) adalah suatu
bentuk kekerasan mental yang menyerang penderitanya, biasanya salah satu pihak
akan merasa tertekan, cemas, stres, bahkan depresi akibat perlakuan yang
didapatkan dari pasangannya yang dapat menimbulkan kelelahan fisik bahkan
mental. Oleh karenanya, hubungan yang toxic tidak boleh di pertahankan dalam
jangka waktu yang lama. Hubungan yang toxic tidak terjadi dalam hubungan
berpacaran saja, tapi juga terjadi dalam keluarga dan pertemanan .
Kita semua tahu bahwa segala sesuatu yang mengandung racun adalah
berbahaya/berdampak buruk bagi kelangsungan hidup kita sebagai makhluk
hidup. Hal tersebut tentunya juga berlaku dalam sebuah
hubungan berpacaran. Tentu, hal itu
akan membahayakan hubungan tersebut yang akan menyeretnya pada hubungan tidak
sehat yang bisa merugikan salah satu pihak.
Pelaku dari hubungan toxic bisa dari pihak laki-laki pun juga perempuan, tergantung pada siapa yang lebih mendominasi. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa suatu pasangan sedang terjebak dalam pacaran toxic dikarenakan si korban menganggap hal tersebut sebagai bentuk cinta yang di berikan oleh pasangannya.
Tidak
sedikit pula yang mengetahui bahwa mereka berada dalam hubungan yang toxic,
tapi malah memilih untuk bertahan di karenakan mereka terlalu menyayangkan mengakhiri hubungan yang sudah lama mereka jalani. Tentu, itu hanya sebagian dari
banyak alasan penyebab seseorang untuk sulit keluar dari hubungan yang toxic.
Dari banyak kasus pacaran toxic yang telah terjadi khususnya di
Indonesia, kebanyakan dari korbannya adalah perempuan. Hal tersebut dipicu oleh
budaya patriarki yang masih melekat dan tumbuh subur pada masyarakat Indonesia.
Patriarki yakni suatu kondisi sosial yang menempatkan kedudukan laki-laki lebih
atas dari perempuan, yang memegang kekuasan, dan mengakibatkan perempuan selalu
menjadi objek sasaran untuk berbuat semena-mena yang berujung pada kekerasan.
Kekerasan selalu dikaitkan dengan perempuan sebagai korbannya, mengingat kekuatan fisik yang di miliki laki-laki berbeda dengan yang di miliki perempuan. Komnas perempuan melaporkan, jumlah kekerasan terhadap perempuan sebanyak 431.371 kasus pada akhir tahun 2019. Pada tahun 2020 dilaporkan lagi secara spesifik bahwa kekerasan dalam pacaran pun juga terjadi yaitu sebanyak 1.815 kasus. Namun, kekerasan dalam pacaran sering kali tidak mendapatkan akses perlindungan hukum karena ranahnya yang masih dianggap terlalu privat.
Pacaran yang toxic tidak terjadi begitu saja, tapi berasal dari
budaya patriarki yang masih kita anggap lumrah dalam kehidupan kita
sehari-hari. Laki-laki kerap kali menganggap perempuan sebagai objek untuk
pemuas kebutuhan seksualnya saja. Alhasil, hubungan yang seharusnya wadah untuk
mengekspresikan cinta, membagikan kasih sayang, melakukan hal-hal yang
menciptakan kebahagiaan, dan tempat berbagi cerita kehidupan satu sama lain,
justru berujung menjadi tempat yang di penuhi oleh pemuas hawa nafsu saja.
Hubungan yang dipenuhi oleh hawa nafsu/pemuas kebutuhan seksual saja, biasanya tidak melahirkan cinta yang sesungguhnya, melainkan hanya akan ada sikap controlling. Secara tidak sadar salah satu pihak telah dimanfaatkan sekaligus diperbudak.
Pada zaman yang sudah sangat modern ini, di mana sudah banyak melahirkan orang-orang yang berintelek, tidak menjamin seseorang tersebut mempunyai pemikiran yang modern juga. Buktinya, masih ada saja perempuan di pandang sebelah mata, di anggap remeh, dan tidak bisa menyamai hak yang di miliki seorang laki-laki yang berujung pada ketidaksetaraan gender.
Lalu bagaimana halnya dalam berpacaran?
Dalam berpacaran pun juga
sama, masih ada banyak laki-laki yang menganggap pasangannya adalah
makhluk yang mudah dikuasai, yang lemah, dan tidak
memiliki power untuk melindungi dirinya sendiri. Perspektif
tersebut lah yang memunculkan sikap mendominasi pada laki-laki.
Budaya mendominasi dalam hubungan
berpacaran masih langgeng sampai detik
ini, khsusnya di Indonesia. Budaya
tersebut lah yang kemudian memunculkan pacaran toxic yang pada akhirnya
banyak memberikan dampak buruk pada perempuan. Berikut beberapa hal yang
akan kamu alami sebagai perempuan saat terjebak dalam pacaran toxic antara
lain :
1. Menjadi people
pleaser.
Sebagai korban dalam pacaran toxic, sering
kali kamu menuruti segala kemauan atau permintaan pacarmu sekalipun
itu bertentangan dengan kemauanmu. Kamu akan selalu berlaku baik
dan berusaha menyenangkan atau membahagiakan orang lain, ini lah yang
disebut people pleaser. Untuk mempertahankan hubunganmu, kamu
sungkan bahkan takut untuk berkata “Tidak” terhadapa apa yang pacarmu
minta, karena kamu takut akan dianggap tidak loyal.
Oleh karena itu, kamu akan mengorbankan dirimu dan juga
kebahagiaanmu sendiri demi membahagiakan pacarmu.
2. Tidak menjadi diri
sendiri.
Pacaran toxic yang selalu dikontrol oleh pasangan akan membuatmu untuk sulit menjadi dirimu sendiri. Karena kamu dituntut untuk terus menjadi apa yang pacarmu inginkan. Kamu merasa seakan-akan kehilangan dirimu sendiri (self esteem) bahkan sampai sulit menerima siapa dirimu yang sebenarnya.
3. Dikekang.
Orang mana yang suka di kekang? Di kekang oleh orang
tua pun kita tidak suka, apalagi oleh pacar yang notabenenya masih tidak
ada ikatan yang sakral dengan kita. Ketika kamu di kekang oleh
pasanganmu, kamu tidak bisa leluasa melakukan hal-hal yang kamu inginkan
bahkan tidak mendapatkan dukungan. Untuk sekedar hangout dengan
teman-temanmu saja sering kali kamu di larang dan pergaulanmu menjadi
terbataas. Kamu akan merasa perlahan-lahan di jauhi oleh teman-temanmu
karena waktumu terlalu banyak kamu habiskan dengan pacarmu.
4.
Dicurigai
Rasa curiga dalam hubungan biasanya di sebabkan oleh
rasa cemburu yang berlebihan sehingga gerak gerikmu selalu diawasi. Hal ini
mengakibatkan pacarmu menjadi posesif. Cemburu adalah hal yang wajar dalam
sebuah hubungan karena itu adalah bentuk kasih sayang. Tapi ketika rasa
cemburu itu melebihi kapasitasnya, bukan kasih sayang yang ada, malah jadi toxic.
5.
Menerima kekerasan fisik
Kekerasan fisik yang dilakukan oleh
pacarmu adalah ciri yang paling menonjol dari sebuah hubungan yang toxic.
Biasanya akan diawali dengan percek-cokan sampai dengan kekerasan
verbal. Seseorang yang sehat secara emosional tidak akan main fisik
bagaimanpun tingkat keparahan suatu konflik yang dia hadapai. Ketika
terjadi perselisihan, pihak yang mendominasi tidak segan membela dirinya dengan
kekerasan fisik setelah kekerasan verbal tak lagi mempan.
Kondisi-kondisi di atas jika di biarkan terjadi dalam jangka waktu yang lama, tentunya akan sangat mempengaruhi kondisi psikis korbannya. Oleh karena itu, pacaran yang toxic tidak boleh dibiarkan maupun dipertahankan apapun alasannya.
Jika secara terus-menerus di
rendahkan, tidak pernah di hargai, di hina, di perlakukan tidak wajar bahkan tidak manusiawi, akan membuat kamu tidak berdaya bahkan kehilangan pengahargaan
atas dirimu sendiri.
Rasa cinta yang berlebihan membuat seseorang sulit
mengontrol dirinya dan kehilangan kendali bagaimana dia seharusnya bersikap,
ini lah yang menyebabkan munculnya hubungan yang tidak sehat (toxic). Karena
itu, ketika menjalin sebuah hubungan berpacaran, alangkah baiknya kita bisa
menyeimbangkan antara perasaan dan logika yang kita miliki agar kita
tetap bisa berfikir rasional dan mencintai dalam kapasitas yang
sewajarnya.
Hubungan berpacaran adalah tentang bagaimana kamu dan pasanganmu bisa saling membantu, saling mendukung, dan saling percaya. Bukan tentang siapa yang lebih baik dan lebih pantas untuk membawahi siapa.
Semua pasangan tentu ingin memiliki hubungan yang sehat nan harmonis. Semua perempuan pun juga ingin di hargai dan di perlakukan wajar oleh pasangannya. Berikut ini hal-hal yang dapat kamu lakukan sebagai perempuan agar tidak terjebak dalam pacaran toxic yakni :
1. Meningkatkan kepercayaan diri
Ketika kamu tidak percaya diri atau mempunyai kepercayaan diri yang rendah, itu akan membuat pacarmu dengan mudah untuk mendominasi sebuah hubungan. Sebaliknya jika kamu percaya diri, kamu tidak akan mudah di perbudak oleh pacarmu dengan iming-iming cinta.
2. Tidak terlalu bergantung
Dalam sebuah hubungan berpacaran memang sudah sewajarnya suatu pasangan bergantung satu sama lain. Tapi, apabila kamu terlalu bergantung pada pacarmu sehingga kamu merasa tidak punya orang lain lagi yang bisa kamu andalkan selain pacarmu, ini tentu saja akan membuat pacarmu untuk semakin berbuat semena-mena padamu. Kamu juga akan mudah di bohongi, karena secara tidak sadar ketergantunganmu membuatmu bucin yang tolol. Tempat yang terbaik untuk bergantung adalah diri kamu sendiri. Selain itu, kamu juga masih punya keluarga dan teman-teman yang masih menyayangimu.
3. Membuat kesepakatan.
Ini penting sekali untuk dilakukan sebelum memulai
sebuah hubungan pacaran. Sebelum kamu memutuskan untuk berpacaran, sebaiknya
kamu perlu membuat beberapa kesepakatan dengan calon pacarmu guna menghindari
hal-hal yang mengarah pada pacaran toxic. Kesepakatan seperti tidak mendominasi
satu sama lain adalah hal yang terpenting. Ini akan mendorongmu
dengan pasanganmu untuk selalu menyelesaikan konflik dengan membicarakannya
baik-baik tanpa adanya kekerasan verbal maupun fisik.
Cinta adalah suatu hal yang kompleks, dan terkadang sulit untuk didefinisikan. Sadar dengan betapa rumitnya cinta, tidak bisa di pungkiri bahwa semua mahkluk hidup masih membutuhkannya. Mengingat sifat dasar manusia yaitu ingin dicintai, disayangi, dan memperoleh rasa aman.
Oleh karena itu, dengan menjalani sebuah
hubungan pacaran adalah salah satu pengakuan secara tidak langsung bahwa
sejatinya kita membutuhkan cinta dari orang lain, terlepas dari
bagaimana kondisi kita, entah kaya, genius, merasa hidup sudah sangat
berkecukupan, tapi tanpa melibatkan suatu fundamental dasar
yang kebanyakan orang-orang nilai tidak terlalu penting di dalam hidupnya, kita
akan selalu merasa ada hal yang kurang.
Sebuah hubungan yang sehat akan menciptakan cinta yang sehat pula, cinta yang dirasakan oleh kedua belah pihak tanpa ada yang merasa tertekan dan terintimidasi. Ketika kamu merasa sudah terjebak dalam pacaran yang toxic, segeralah keluar dari hubungan tersebut, lalu cobalah untuk bertanya ke diri kamu sendiri, apa hal yang bisa kamu pelajari dan apa yang perlu kamu rubah dalam diri kamu ketika kamu ingin membangun sebuah hubungan berpacaran yang selanjutnya.
Begitu juga ketika kamu sudah pernah mengalami pacaran toxic. Mungkin saja kejadian-kejadian yang pernah kamu alami selama berpacaran mempengaruhi kondisi psikismu, lantas membuatmu trauma, dan ingin berhenti untuk mencintai siapa pun.
Hidup bukan
hanya tentang mencintai lawan jenis atau pasangan saja, masih ada banyak
orang dan mahkluk hidup lain yang perlu kita cintai seperti keluarga,
teman, hewan, dan yang paling penting adalah mencintai diri
sendiri dan Tuhanmu. Love yourself first before you love
others.



Komentar
Posting Komentar