Kegelisahan Itu Datang
Tahun ke tiga di Jepang, hari demi hari rasanya semakin pedih dan hambar. Semakin lama di sini, semakin merasa orang-orang sekitar mulai membuat jarak dan menjauh. Semakin lama di sini, semakin sukses dengan pencapaian diri tapi paradoksnya satu persatu orang-orang mulai pergi.
Kebahagiaan sesaat ketika bisa membeli apapun, kesenangan sesaat ketika bisa mencapai sesuatu, kepuasan sesaat ketika bisa memakan makanan enak, ke-sementaraan dunia ini memang menyebalkan dan menjijikkan.
Memilih hidup aman tetapi memiliki hati pemberontak. Memilih dikekang padahal memiliki jiwa bebas. Memelihara jiwa pengecut untuk keseragaman sosiality. Menjadi bebal akan tuntutan untuk terlihat normal di tengah-tengah pemakai topeng.
Ke-muakkan dunia ini mulai nampak jelas. Dunia tercela. Dunia yang busuk. Kebusukan manusia yang sangat menjijikkan perlahan-lahan menghancurkan dunia itu sendiri.
Jika ketentraman yang Tuhan maksud seperti ini, aku tidak akan pernah keberatan untuk meninggalkan kenyamanan hidup yang aku rasakan sekarang ini. Ternyata bukan kenyamanan seperti ini yang aku inginkan. Bukan kenyamanan yang menggerogoti jiwa ku, yang memakan fikiran ku, yang mencabut orang-orang yang seharusnya tinggal.
Sengaja aku berlari dan menghilang, tapi siapa sangka aku dituntun ke dunia yang abstrak tanpa arti ini. Ingin berlari lebih jauh lagi atau harus kembali demi kebebasan jiwa?


Komentar
Posting Komentar