STOP RASISME
Rasisme merupakan
perilaku yang mengunggulkan ras diri sendiri, merasa superior, dan memiliki hak
untuk mengatur ras lainnya. Di Amerika sendiri,
rasisme lahir sejak ribuan tahun lalu yang di awali dengan adanya istilah xenophobia. “Xeno” berasal dari kata yunani yang berarti pendatang atau orang
asing, sedangkan “phobia” yaitu
ketakutan. Jadi xenophobia adalah ketakutan terhadap pendatang atau
orang asing.
Istilah xenophobia pertama kali muncul
sejak adanya jutaan imigran yang datang dari berbagai negara ke Amerika
untuk mengungsi atau sekedar mengadu nasib. Warga Amerika
menganggap bahwa para imigran yang mendatangi negara mereka berasal dari negara-negara kelas bawah (miskin) dan cenderung inferior.
Selain
itu, mereka juga menganggap para imigran tersebut akan mendatangkan
permasalahan sosial dan ekonomi bagi negara mereka. Dari anggapan-anggapan
tersebut, maka munculah ketakutan terhadap pendatang
yang berujung pada sikap rasisme.
Terlepas dari ketakutan warga Amerika terhadap
pendatang yang dinilai akan mendatangkan dampak negatif bagi mereka, mereka tentunya melakukan hal-hal untuk
mempertahankan ke-eksistensian
negara mereka sendiri. Hal-hal seperti mengontrol, menguasai, terlebih lagi memperbudak ras-ras yang
mereka anggap lemah (inferior) adalah sebagian dari aksi yang mereka lakukan untuk melindungi negara mereka dari serangan imigran yang mereka anggap pembawa berbagai masalah. Tentu saja
sikap-sikap tersebut sudah sangat masuk dalam kategori rasisme.
Ada berbagai
faktor munculnya rasisme mulai dari sejarah, perbedaan asal, warna kulit, serta
adat istiadat, dan budaya. Kasus rasisme lebih banyak ditemukan pada negara yang
cenderung lebih maju dan juga pada mereka
yang memiliki kulit yang cenderung lebih terang.
Kebanyakan dari
pelaku rasisme sering kali tidak menyadari bahwa mereka rasis ketika mereka
dalam kondisi tidak menyukai, membenci, menghina, menindas, sampai melakukan
hal-hal yang tidak senonoh kepada ras lainnya.
Sebut lagi Amerika, faktor
seperti pendidikan dan lingkungan adalah penyebab utama yang paling banyak ditemukan, yang di mana pendidikan yang di maksud adalah
didikan yang di dapatkan seseorang
dalam keluarganya maupun di sekolah formal.
Ciri yang paling menonjol di tunjukkan
dengan keasingan melihat perbedaan, sulit, dan bahkan tidak menerima adanya
perbedaan-perbedaan yang berkaitan dengan ras suatu negara yang meliputi, perbedaan warna kulit, bahasa, budaya
dan lainnya. Hal tersebut dipicu oleh minimnya pembicaraan atau diskusi tentang rasisme yang dilakukan dalam parenting maupun di sekolah formal.
Studi
menemukan sebanyak 81% orang tua kulit putih di Amerika percaya bahwa penting
untuk membicarakan tentang rasisme dengan anak, tetapi hanya 62% yang
dilaporkan benar-benar melakukannya. Untuk meyakinkan hal tersebut, lebih dari
2000 remaja berumur 18 tahun ke atas telah di
wawancarai dan di temukan sebanyak 65% mengatakan bahwa orang tua mereka “jarang”
atau bahkan “tidak pernah” membicarakan tentang rasisme dengan mereka. Sedangkan di institusi formal seperti sekolah, rasisme dilontarkan dengan jokes atau ejekan yang bersifat sarkasme.
Dengan
tidak adanya perkenalan ataupun pembicaraan tentang rasisme yang dilakukan oleh
pihak yang paling inti yaitu antara orang tua dan keluarga kepada anak atau guru kepada murid, akan mengakibatkan
tidak adanya pengetahuan mengenai perbedaan ras, dan rasisme yang secara tidak langsung akan melahirkan kecacatan karakter seperti sulit bahkan tidak menghargai akan adanya suatu perbedaan.
Rasisme kerap kali
dikaitkan dengan diskriminasi, yaitu suatu sikap pembedaan perlakuan terhadap
suatu golongan tertentu. Misalnya saja
pembedaan perlakuan antara orang kulit putih (caucasian) dengan orang kulit hitam (black people).
Orang kulit hitam sering kali diperlakukan tidak
adil, tidak setara, tidak manusiawi, bahkan tidak jarang sampai berujung pada
kematian. Berangkat dari adanya xenophobia,
orang kulit hitam sering kali menjadi sasaran empuk bagi kaum kulit putih untuk
di jadikan budak. Orang kulit hitam sudah dianggap ras yang miskin sejak pertama kali mereka berimigrasi ke Amerika, dan
karena itu kaum kulit putih memperlakukan mereka harus lebih rendah dari manusia. Selain itu mereka di daulat tidak akan pernah bisa memiliki hak
yang setara dengan kaum kulit putih.
Oleh karena
perlakuan tersebut, sudah banyak kasus pembunuhan yang terjadi di Amerika di mana pelakunya adalah orang kulit putih dan
korbannya orang kulit hitam. Meyakitkannya lagi,
hal ini sudah lumrah terjadi di negara tersebut. Tidak peduli seberapa banyak orang kulit
hitam yang sudah speak up serta membuktikan
dengan berbagi aksi bahwa mereka layak mendapatkan
hak dan perlakuan yang setara tanpa melihat ras mereka, namun mereka hanyalah kaum minoritas, kaum yang masih saja mendapati kejamnya dari aksi rasisme yakni tergeletak tak bernyawa.
Amerika, negara yang kita sebut negara superior
karena berhasil mencetak berbagai kesukesan,
bahkan hampir seluruh negara yang ada di muka bumi ini berkiblat
pada negara tersebut. Sepanjang
sejarah kehidupan, mereka sering kali unggul dalam banyak hal dan tidak jarang
mereka juga sudah banyak melahirkan
orang-orang yang berpengaruh besar dalam kemajuan aspek kehidupan seperti dalam bidang kemiliteran, ekonomi,
pendidikan, science, dan lainnya. Melihat
keberhasilan mereka dalam berbagai hal, maka naif sekali jika kita tidak
terpengaruh, megikuti, bahkan condong pada mereka.
Baiklah, mari kita katakan bahwa Amerika memang
unggul dalam banyak hal, bahkan sudah di cap menjadi negara yang paling kuat di jagat raya muka bumi ini karena kekuatan
militernya. Negara yang mempunyai tingkat pendidikan yang
berkelas nan berkualitas dan kaya akan intelektualitas. Tapi tahukah kalian
bahwa mereka kerap kali dianggap miskin moral, no manners, bahkan tidak punya attitude?
Karena sampai detik ini pun masih banyak warga negara di luar negara
Amerika khususnya para pendatang dan imigran mendapatkan perlakuan buruk dari
mereka yang menjurus kepada rasisme.
Rasisme tidak di alami oleh orang kulit hitam saja, orang Asia atau Asian American pun yang secara permanen telah mendiami negara tersebut juga semakin banyak mendapatkan
perlakuan yang tidak pantas. Kasus rasime lebih
banyak di alami oleh perempuan yaitu sekitar 64% di bandingkan dengan laki-laki
yaitu sekitar 23%. Mereka di buntuti, di
culik, di perkosa, sampai kasus terburuknya di bunuh. Di tambah lagi semenjak adanya bencana Covid 19, tingkat
rasisme di Amerika melonjak drastis khususnya pada orang asia yaitu ras Tionghoa.
Lalu bagaimana dengan rasisme di Indonesia? Pernahkah
kalian mendapat perlakuan yang mengarah kepada rasisme dari sesama ras kalian
sendiri? Mungkin diskriminasi? Well, ketika kalian mendapatkan perlakuan yang
menjurus pada rasisme, jangan segan-segan untuk takut melawannya dan buktikan bahwa rasisme adalah perlakuan yang norak. Saya akan mengambil salah satu contoh perlakuan rasisme yang
sedang hangat di Indonesia yaitu rasisme yang dilakukan oleh orang korea kepada orang
Indonesia.
Sekitar satu bulan yang lalu tepatnya bulan maret,
seorang perempuan Indonesia sedang melakukan random video call di salah satu
platform yang cukup terkenal di Indonesia. Lalu perempuan tersebut secara random
bertemu dengan seorang pria asal Korea Selatan. Setelah beberapa saat
mengobrol, pria korsel tersebut secara terang-terangan menghina fisik perempuan
Indonesia tersebut. Dia mengatai bahwa perempuan itu tidak cantik. Selain menghina, dia mendewa-dewakan lalu membandingkan kemajuan ekonomi yang di miliki negaranya
dengan Indonesia. Padahal dia tidak tahu bahwa setelah kemerdekaan, negaranya pernah jauh lebih miskin dari Indonesia.
Perlakuan tersebut sontak membuat saya prihatin terhadap pria
korsel tersebut. Dia dengan tampangnya yang masih muda, hidup di salah satu
Negara maju dengan sistem pendidikannya yang sangat hebat, tapi malah memiliki kecacatan kecerdasan khusunya pada humanisme. Hal
ini lah yang sering kali terjadi pada orang-orang yang tinggal di negara maju.
Tidak peduli seberapa cerdas dan pintarnya mereka, kalau tidak memiliki
kecerdasan humanity dan socialization, kecerdasan mereka
hanyalah bias.
Rasisme perlahan telah menyebar luas di seluruh penjuru negeri di muka bumi ini. Pelaku rasisme sering kali memperlakukan sesamanya dengan tidak manusiawi hanya karena alasan tertentu seperti berbeda ras. Padahal jika di lihat dari kaca mata general
entah caucasian, black people, asian, atau ras lainnya, mereka sejatinya berasal dari ras yang sama, yaitu ras manusia.
Selain terang-terangan, rasisme kerap kali dijadikan bahan candaan. Sengaja atau tidak, rasisme tidak seharusnya dijadikan bahan lelucon. Para korban yang telah mendapatkan perlakuan rasisme berharap,
jika mereka memang tidak bisa
mendapatkan perlakuan yang semestinya, setidaknya mereka hanya ingin mendapatkan keamanan atau kehidupan
yang damai tanpa dihantui oleh rasa
khawatir yang terus menerus menyerang mereka.
Sudah saatnya di era yang cerdas dan penuh dengan orang berintelek ini, hak
manusia sebagai manusia di dapatkan serta di tegakkan. STOP RACISM!



Komentar
Posting Komentar