Hidup Itu sebenarnya SENDIRI
Sebelum benar-benar memikirkan apa itu hidup, sebagian manusia sering kali hidup di luar koridor kehidupan yang telah ditentukan. Banyak yang menganggap bahwa itu memang sebuah kewajiban yang harus mereka lakukan sebagai manusia untuk mencari arti kehidupan yang sesungguhnya. Saya pun tidak heran, karena manusia sejatinya sering kali keliru.
Jika sebagian besar dari kita sejak awal diilhami untuk mengerti apa sebenarnya arti hidup, mungkin hanya beberapa persen dari populasi manusia yang akan melewati koridor tersebut. Karena kebanyakan dari kita pasti tau bahwa semakin kita mencari arti kehidupan, kita akan semakin tidak bisa menemukannya.
Saya pribadi belum memahami kenyataan bahwa masih ada banyak manusia yang berusaha menemukan arti kehidupan mereka dengan melakukan berbagai tingkah laku yang menurut saya rancu. Berbagai konfrontasi, problematika yang krusial, sampai pada akhirnya berlabuh pada kompleksitas kehidupan personal. Semuanya menciptakan korelasi yang terkadang manusia sendiri harus belajar menerimanya.
Apakah tuhan sengaja memberikannya? Tidak juga. Karena tidak semua hal berawal dari Tuhan. Melainkan dari kesengajaan manusia yang membuat Tuhan hanya sebagai pemberi umpan balik akan perbuatan yang mereka buat sendiri.
Saya menemukan bahwa banyak orang yang mendefinisikan hidup itu memanglah rumit dari segi sosialis pun personal. Sebelum akhirnya kembali pada sisi kehidupan internal, kita sering kali terjun pada kehidupan sosial terlebih dahulu untuk merasakan berbagai keruwetan kehidupan eksternalitas. Dan memang tidak salah. Bahkan harus dilakukan mengingat manusia adalah mahkluk sosial. Saking sosialisnya, kita bahkan berlomba-lomba menciptakan circle yang setidaknya memberikan kita kesenangan tertentu atau bahkan value.
Setelah menghadapi berbagai problematika eksternal serta urusan-urusan yang membuat jiwa sosialis kita mencapai klimaks, manusia pada dasarnya akan berada pada titik terendah mereka. Bergulat dengan paradoksal kehidupan sosial.
Mengetahui betapa kompleks dan antah berantahnya kehidupan eksternal, banyak dari kita lebih memilih menghindar untuk terlibat pada masalah-masalah sosial. Hingga pada akhirnya, kita hanya akan kembali pada diri. Tempat yang paling aman untuk berlabuh. Berteduh pada kehidupan interpersonal.
Setelah berusaha menemukan ketenangan dalam diri, sebagian dari kita bahkan tidak tanggung-tanggung untuk menjauh bahkan meninggalkan gemerlapnya kehidupan sosial.
Ini memanglah atas kendali dari sisi kehidupan internal yang masing-masing orang miliki. Sisi pribadi yang berhak menentukan segala keputusan hidup tanpa campur tangan orang lain. Juga, akan ada masanya seseorang sadar bahwa hidupnya bukanlah semata-mata berdasarkan dari tuntutan bahwa dia makhluk sosial, karena kenyataannya ‘hidup itu sebenarnya sendiri’.
Jika kita berfikir rasionalis meskipun manusia tidak bisa sepenuhnya rasional, sebenarnya sejak awal berada di dunia ini manusia sejatinya sudah dilahirkan berjiwa individulis. Untuk apa? Supaya mereka fokus akan urusan mereka masing-masing dan mampu menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas kehidupan mereka sendiri.
Tidak sekedar kehidupan duniawi saja, pada kehidupan selanjutnya pun manusia akan fokus pada diri mereka masing-masing tanpa terlibat dengan orang lain meskipun orang tersebut keluarga mereka sendiri. Sejatinya kita memang sudah diizinkan Tuhan untuk bersikap individualis di dunia ini guna mempersiapkan diri pada kehidupan selanjutnya.
Siapa yang akan mau bertanggung jawab untuk kehidupan kita? Orang tua? Sanak saudara? Kerabat dekat? Mereka mungkin memang melakukannya karena mereka sudah disetting untuk bertanggung jawab dengan embel ikatan antar anak dan orang tua atau antara saudara kandung dan sebagainya.
Selebihnya? Apakah seterusnya kita akan selalu mendapatkan pertanggung jawaban dari orang lain? Tentu tidak bukan? Seiring berjalannya waktu, mereka pun akan pelan-pelan melepas kita agar bisa sendiri, mandiri, dan berdiri di kaki sendiri.
Hidup itu sendiri, karena perlahan-lahan, satu persatu, orang-orang terdekat kita akan menjauh, menghilang, dan meninggalkan kita. Tidak peduli seberapa kuat usaha kita menahan mereka untuk tetap bersama kita, mereka pada akhirnya akan tetap pergi. Atau mungkin kitalah yang akan meninggalkan mereka.
Oleh karenanya, salah besar jika kita memilih untuk menggantungkan hidup kita pada orang lain. Salah besar pula jika kita terlalu bergantung pada orang lain, karena satu-satunya tempat bergantung yang paling valid yaitu hanya pada diri sendiri.
Hiduplah untuk diri sendiri. Jangan terlalu mengandalkan orang lain. Bahkan jangan terlalu mempercayai mereka. Karena ketika kamu jatuh, kamulah satu-satunya penolong bagi dirimu sendiri.



Komentar
Posting Komentar