Perkara Karakter Manusia Sebagai Dasar Penilaian Diri
Seseorang yang kebanyakan orang anggap tidak special, yang tidak berada
di kubu kanan maupun kiri alias netral, yang tidak condong pada salah satu
sisi, dan cenderung berada di tengah-tengah, memang sekiranya pantas di sebut
tidak special. Dia adalah seorang ambivert. Seseorang dengan karakter yang
paling banyak ditemukan di dunia. Mereka tidak langka, tidak menonjol, pun tidak
sulit ditemukan layaknya seorang introvert dan ekstrovert yang sejatinya memang
sudah dikategorikan dalam kubu special.
Setelah menjalani sebanyak dua kali tes kepribadian melalui skor MBTI
(16 personalities), saya selalu mendapatkan hasil ENTJ. Si ENTJ ini identik
dengan karakternya yang lebih ekstrovert. Terbukti, saya mendapati sisi
ekstrovert saya sebanyak 61% dengan sisi
introvert 39%. Dikatakannya role saya itu an analyst. Dan saya memanglah
seseorang yang gemar menganalisis segala sesuatu. Saya gemar mencari tau
sesuatu sampai mengkorek sedalam-dalamnya, kecuali tidak dengan urusan orang
lain. Bisa dikatakan saya mempercayai metode tes MBTI tersebut sebanyak 97%.
Saya belum bisa menyebut diri saya bahwa saya fully ekstrovert, karena
melihat persentasenya saja belum bisa dikategorikan an extroverter. Menurut
saya, karakter seseorang akan berubah seiring bertambahnya usia seseoramg
tersebut. Juga, karakter bisa saja berubah dikarenakan oleh beberapa faktor
seperti pengaruh lingkungan, pengalaman, dan pembelajaran hidup yang pernah
seseorang tersebut lalui selama fase kehidupnya. Maka dari itu, sebaiknya
melakukan beberapa kali tes dengan rentang waktu yang cukup berbeda jauh.
Seseorang dengan karakter introvert dan ekstrovert sering kali mendapat
pengakuan publik bahwa mereka special. Mereka berkarakter jelas dan tidak
ambiguitas. Mereka tidak terkatung layaknya seorang ambivert. Mereka bisa
memilih, mereka seharusnya ingin condong ke mana. Namun lihatlah si ambivert,
dia seperti seseorang yang tidak punya kepercayaan diri. Dia sumbang. Dia bahkan
bingung dan terkesan tidak bisa memilih sisi mana yang harus dia dominasi. Karena
kenetralannya, tidak heran ambivert sering kali merasa terabaikan karena
sifatnya yang tidak mencolok di muka umum. Alhasil ambivert jarang di sorot,
bahkan jarang diketahui.
Ketika pembahasan karakter booming pada pertengahan 2019 hingga sekarang, si introvert dan ekstrovert ini bagaikan musisi billboard yang bertengger di urutan No.1 hingga berminggu-minggu. Mereka berjaya dan dikenal baik oleh khalayak ramai. Mereka top search engine di berbagai platform. Mereka seolah-seolah topik yang berbobot untuk didiskusikan oleh para milenial dan gen Z yang mempunyai daya capability di atas rata-rata. Kenapa? Apakah mereka se-special itu? Yes, they are.
Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, merekalah karakter yang paling jelas. Orang-orang akan cepat mengenali mana kala dirinya seorang introvert atau ekstrovert, karena kedua karakter tersebut sangat bertolak belakang berdasarkan dari ciri-ciri yang telah di elaborasi. Merekalah pemeran utamanya.
Ketika seseorang menyebut diri mereka seorang introvert atau ekstrovert, akan ada rasa keyakinan dalam diri mereka bahwa karakter mereka absolut. Tapi tidak dengan seorang ambivert. Mereka terkesan abstrak dan absurd. Barangkali seseorang akan melontarkan beberapa pertanyaan terkait ambivert. Pertanyaan seperti :
Itu bagaimana?
Lalu? Sebenarnya kamu seperti apa?
Oh netral? Biasalah gitu ya…
Belum pernah saya temukan orang yang mengaggumi karakter yang netral dan
biasa saja karena publik akan berfokus pada karakter partisan atau condong pada
satu sisi. Publik terkadang menilai kenetralan adalah sesuatu yang tidak
bervalue. Lalu apakah seorang ambivert memang terlahir tidak special? Apakah
dia benar-benar tidak bisa memilih ingin berada di kubu yang mana? Apakah dia seorang
pengecut? Tidak. Dia bukanlah seorang pengecut. Namun itu lah key point yang dia dapatkan, netral dan seimbang.
Saya tau bahwa banyak sekali orang merasa dirinya tidak special, terbuang, tidak bermakna, bahkan tidak ada apa-apanya di mata masyarakat. Dan biasanya orang-orang tersebut memang dari kalangan orang yang berkarakter ambivert dengan skor introvert dan ekstrovertnya berselisih tidak banyak.
Selain si ambivert, si introvert juga tidak jarang merasa diri mereka tidak special karena karakter mereka yang cenderung melankolis. Berbeda dengan si ekstrovert yang terkenal dengan pembawaanya yang lebih energetic dan ceria.
Beberapa introverter justru mengagumi para ekstroverter karena mereka
kerap kali disegani oleh banyak orang, diakui, mudah berbaur, lugas, dan tidak
jarang menjadi fokus publik. Namun pada beberapa kondisi, antara introvert dan
ekstrovert justru berbenturan karakter satu sama lain.
Jika membicarakan ketiga perbedaan karakter tersebut, sebenarnya tidak
ada karakter yang mendominasi dengan kata lain special, karena korelasi antar ketiganya
menciptakan karakter yang sebenarnya bersimbiosis mutualisme. Setiap karakter
mempunyai sisi yang yang tidak dimiliki oleh karakter lainnya. Setidaknya kita
harus mulai untuk berhenti melabeli diri bahwa kita tidak special di mata orang
lain. Because you are special by your own.



Semangat untuk terus menulis. 💪💪
BalasHapusOkay :)
Hapus