Kekeliruan Bodoh Pada Anggapan Bahwa Cantik itu PRIVILEGE
Cantik? Siapa yang tidak ingin terlihat cantik? Apalagi seperti mba Raline?
Semua perempuan tentunya ingin terlihat cantik juga menarik. Saya tidak munafik. Saya sendiri pun juga selalu berusaha agar terlihat cantik di depan semua orang. Entah dengan berdandan, merawat diri, tampil rapih, memakai filter, semua itu saya lakukan hanya agar terlihat cantik yang berlanjut ingin mendapatkan pengakuan/validasi.
Iya, Dulunya.
Sekarang? Saya sudah tidak peduli lagi akan validasi.
Terlihat cantik termasuk dalam fundamental kehidupan bagi kebanyakan perempuan. Maka tidak jarang kita (perempuan) berlomba-lomba melakukan berbagai cara hanya agar terlihat cantik. Mulai dari menata pakaian yang ootd, skincare-an, dandan, sampai kasus ekstreamnya operasi plastik. Semua itu kita lakukan hanya karena kita ingin terlihat cantik dan menarik di mata orang lain.
Saya kerap kali berkeinginan seperti itu. Saya ingin agar semua orang menyukai saya, tertarik dengan saya, mengakui bahwa saya cantik, semua itu dulunya sifat buruk saya sebagai gadis centil.
Keinginan untuk diakui, merasa penting, dan dianggap memang sifat dasar seorang manusia. Saya tidak akan menyangkal itu. Tapi bagaimana dengan keinginan untuk terus terlihat cantik? Apakah menjadi cantik adalah hal yang harus selalu kita perjuangkan? Apakah menjadi cantik itu suatu hal yang harus kita kejar? Apakah dengan menjadi cantik maka setengah dari kehidupan kita akan dimudahkan? Dan apakah cantik itu privilege? Well, we'll see.
Baiklah, di sini saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya sebagai seorang perempuan yang mendapat predikat cantik dari kebanyakan orang yang saya temui (padahal aslinya mah buluk).
Sebelum saya benar-benar menyadari bahwa menjadi cantik itu adalah adalah sebuah privilege (hak istimewa), saya memang sering kali mendapatkan perlakuan khusus dalam beberapa aspek kehidupan pribadi saya. Percaya atau tidak, ternyata menjadi cantik itu memanglah suatu anugerah yang tidak bisa kita tolak kenikmatannya.
Saya juga sangat bersyukur pernah menjadi bagian dari standar kecantikan orang Indonesia meskipun baru diakui pada skala kecil saja. Namun ternyata saya tidak menyangka bahwa orang luar negeri pun kerap kali memuji saya dengan sebutan 'beautiful lady'. Entah itu hanya motif mereka saja untuk menarik perhatian saya atau bentuk respect mereka.
PERTANYAANNYA,
Apakah saya senang dijuluki dengan sebutan cantik?
Jelas senang. AWALNYA.
Iyalah.
Siapa sih yang tidak senang dipuji? Dibilang cantik? Manis pula ewww
Sebentar.
Awalnya? Memangnya sekarang sudah tidak senang lagi?
Yap. Saya sudah tidak senang lagi. Bahkan saya sudah muak mendengar pujian-pujian yang hanya membuat saya tinggi hati itu. Bukan apa-apa, hanya saja ada hal yang ingin saya hilangkan dari perspektif kebanyakan orang ketika menilai perempuan dari kecantikannya saja.
Jujur, sekarang ketika saya dilontarkan pujian secara langsung atau hanya sekedar melihatnya di kolom komentar dan dm saya, saya tidak lagi merasakan kesenangan dan kepuasan batin yang luar biasa yang dulu biasanya saya rasakan ketika mendapatkan pujian.
Mungkin sebagian besar dari kita beranggapan bahwa menjadi cantik itu enak. Hidupnya bahagia terus. Tidak perlu susah dalam mencari pasangan pun pekerjaan. Disukai banyak orang. Serta anggapan-anggapan polos yang membuat diri insecure lainnya. Kebanyakan orang pasti akan memikirkan hal-hal bagus dan positifnya saja. Padahal dibalik itu, you don't know anything about being pretty at all fergusou.
Fakta dari banyak orang, di samping kamu dipuji-puji karena kamu cantik, pada saat yang bersamaan kamu juga acap kali dianggap 'brainless' dengan kata lain gak punya otak alias tolol.
Lah kok?
Kok anda sok tau banget?
Saya tidak terima dong dikatain tolol??
Mungkin anda akan menimpali saya seperti itu. Hal ini bukan dari perspektif saya belaka, melainkan berdasarkan fakta yang saya alami dan temukan sendiri.
Banyak orang-orang yang menilai perempuan cantik hanya akan berfokus dengan kecantikannya saja tanpa peduli beyond that atau di luar dari itu. Alahasil, perempuan cantik sering kali diremehkan sekalipun sebenarnya dia pintar.
Perempuan cantik akan dianggap remeh/gampangan. Sering kali dijudge "lah memangnya dia bisa apa? Selain mengandalkan kecantikannya? Paling bisanya cuma dandan doang". At least itu yang saya alami dan temukan dari pengalaman-pengalaman orang cantik lainnya.
Saya tidak akan menyalahkan anggapan-anggapan atau perspektif buruk yang orang-orang lontarkan pada perempuan cantik. Saya tidak marah. Karena saya paham alasan dari kenapa mereka melabeli perempuan cantik seperti itu. Kebanyakan dari opini berangkat dari pengalaman dan realita yang terjadi di lingkungan sekitar kita.
Lalu apa realitanya?
Di masyarakat kita, perempuan cantik identik dengan biduan, SPG, atau bahkan pekerja malam yang notabenenya mereka mudah untuk didapatkan. Oleh karena itu, mereka yang sering meremehkan dan menganggap perempuan cantik itu gampangan, karena mereka dihadapkan oleh realita kehidupan yang perempuan cantiknya gampang di beli. Cukup dikasi duit maka selesai urusan.
Saya pun mengakui realita itu.
Saya juga sering menemukan perempuan cantik di circle saya yang notabenenya memang suka diperbudak laki-laki dan (maaf) kurang ngotak. Sorry to say, tapi itu faktanya. Meskipun saya juga tau, lebih banyak perempuan cantik di luar sana yang berkredibilitas.
Semenjak itu, saya tidak senang lagi dilabeli 'cantik'. Saya berbalik menjadi tidak nyaman. Apalagi semenjak saya sering di cat calling dan digodain oleh laki-laki fakboy dan om om hidung belang yang tidak tau malu, label 'cantik' tidak lagi menyenangkan bagi saya.
Parahnya lagi ketika saya sudah lebih bisa merawat diri dengan memakai beberapa sentuhan make up, orang-orang mengira otak saya hanya taunya bagaimana cara memakai bedak, buat alis, ombre lipstick, and so on. Padahal itu hanya wujud dari perawatan diri, bukan untuk pemuas mata lawan jenis. Tampil rapi dan bersih juga sebagai bentuk sikap menghargai orang yang akan kita temui. Asalkan tau kaidah dan masih pada kapasitas normal.
Cantik itu memang relatif. Tidak semua perempuan cantik yang kita temui sama dengan perempuan cantik yang kita anggap gak ngotak. Banyak sekali perempuan-perempuan Indonesia yang cantik sekaligus pintar bin cerdas, contohnya saja Maudy Ayunda, Raline Shah, Dian Sastro, Chelsea Islan, dan masih banyak lagi. Itu baru dari kalangan public figure saja, belum dari masyarakat awam yang notabenenya kita belum tau kredibiliti mereka seperti apa.
Sekarang, cantik tapi tidak cerdas itu seperti tidak ada gunanya bagi saya. Fana. Saya tidak lagi mendewa-dewakan perempuan hanya karena kecantikannya saja, melainkan kecerdasannya. Akan lebih bagus lagi jika cantik dibarengi dengan kecerdasan intelektual.
Menurut saya, cantik itu bonus yang bersifat lahiriah atau memang sudah bawaan alam. Sulit untuk merubah wajah kita menjadi cantik kecuali dibantu dengan makeup art dan jalan operasi plastik. Kalau cantik ya sudah cantik. Namun kecerdasan tidak begitu. Kecerdasan bukanlah skill bawaan. Dan saya yakin, perempuan yang cerdas sudah pasti cantik.
Dari pada harus berusaha mati-matian memoles diri dengan berbagai cara supaya terlihat cantik, saya akan lebih memilih untuk memoles dan mengasah bagian leher ke atas saya (otak).
Saya tidak mengatakan bahwa cantik itu tidak perlu atau tidak penting karena banyak juga prestasi yang bisa didapatkan dari kelebihan visual tersebut. Hanya saja kurang bervalue bagi saya pribadi. Saya percaya bahwa perempuan akan lebih dihargai ketika dia cerdas dari pada hanya terlihat cantik.
Perempuan sejatinya sudah sering diremehkan dan dipandang rendah karena sering kali dianggap objek. Dengan menjadi cantik saja, bukan berarti derajat kamu terangkat. Justru kamu akan sering mendapatkan perlakuan-perlakuan yang tidak wajar. Maka dari itu, menjadi cantik saja tidaklah cukup, perlu investasi dari leher ke atas juga.



Cantik adalah Subyektif.!
BalasHapusbetul :)
Hapus