Tidak Perlu Hopeless, Kita Masih Bisa Belajar Dari BTS

 

    Tempo hari saya bertemu dengan teman-teman SMA saya setelah sebulan lebih tidak kumpul. Biasanya kami melakukan pertemuan rutin setidaknya sekali dua minggu. Tapi karena salah satu teman pengangguran saya akhirnya sudah bekerja yang di mana mempunyai jadwal kerja yang padat, kami akhirnya sangat sulit untuk menemukan hari yang benar-benar free kecuali hari minggu.

    Topik pembicaraan kami tidak pernah lepas dari dunia pekerjaan mengingat mayoritas teman-teman saya sudah bekerja dan salah satunya menjadi budak korporat. Dia lantas beberapa kali menawarkan saya untuk bekerja di tempatnya juga. Menjelaskan berbagai benefit yang dia dapatkan hingga dia berkata ....

“sekarang tuh susah dapet pekerjaan tanpa orang dalem”

“gue gak muna’, cuman gue pun juga gitu”

“kita ngomongin realitanya aja deh.. mostly temen-temen gue juga gitu”

“tanpa orang dalem, bakal susah. Kecuali kalo lu emang bener-bener berprestasi”

“eh, meskipun lu berprestasi dan pinter juga, sama aja sih sebenarnya”

    Setelah mendengar beberapa kalimat tersebut, saya otomatis me-rewind memori saya dan melihat teman-teman yang saya kenal ‘memang sebagian besar berhasil bekerja karena punya koneksi’. Itupun hanya ada satu orang yang literally pure berhasil karena dia memang capable, selebihnya? Pakai koneksi.

    Saya pun bergumam, apakah di indonesia masih benar-benar ada persaingan yang jujur? Atau dalam skala kecilnya saja, di tempat tinggal saya misalnya, apakah masih ada? Apakah selama negara ini masih dikuasai oleh orang-orang yang berkuasa dan ber-uang, masih adakah kejujuran itu? Apakah dunia ini akan selalu didominasi oleh orang-orang yang punya privilege?

    Ada orang yang berkata “without money, you are nothing”. Saya pun langsung nyeletuk “lebih tepatnya without brain you are nothing”. Bukannya mau sok-sokan menutup mata dari kenyataan, tapi saya hanya mencoba bersikap realistis. Coba saja fikirkan, meskipun kamu kaya dan punya banyak uang tapi kalau kamu bodoh misalkan, tidak punya ilmu tentang finance, tidak punya skill memanage keuangan dengan baik, tidak tau cara saving atau investasi, lama-kelamaan uang kamu pasti akan habis juga karena tidak dikelola dengan sedemikian rupa dan akhirnya kamu jadi jatuh miskin dan mungkin bisa jadi gila karena tidak bisa menerima kenyataan. Sebenarnya itu realitanya.

    Sekarang coba kita fikirkan lagi. Kamu kaya, punya uang banyak, tapi kamu doyan foya-foya sana sini ngabisin uang sampai berjuta-juta. Tiba-tiba ada yang mengajak kamu untuk berbisnis, tapi karena tidak punya skill berbisnis dan kurang kritis dalam menyikapi segala hal, kamu malah ditipu dan uang kamu malah dicomot semua. Salah siapa? Gak mungkin orang yang nipu kamu dong? Malah dia lebih cerdas. Mungkin itu salah kamu yang kurang berfikir karena taunya cuman “okay, gue kaya dan duit gue banyak, gue mau apapun di dunia ini bisa gue beli”.

    Nah itu, sering kali orang-orang akan menganggap diri mereka bervalue hanya karena mereka punya uang yang banyak, hanya karena mereka sudah punya segalanya. Karena mereka ber-uang, mereka menganggap segala masalah hidup bisa mereka atasi hanya dengan uang. The power of money. Oleh karena itu, banyak orang kaya yang sombong, rakus, egois, merasa diri sudah di atas awan dan enggan melihat ke bawah.

    Saya tau, tidak semua orang kaya dan ber-uang seperti itu, maka dari itu saya memilih kata ‘kebanyakan’ yang berarti tidak semua. Saya juga tidak membenci orang kaya atau iri hanya karena saya berekonomi kelas menengah ke bawah. Kembali lagi, ini hanya opini-opini yang saya tarik dari pengalaman hidup yang sudah saya lalui selama ini. Pengalaman menghadapi berbagai macam tipe manusia di muka bumi ini.


    Sebagai contoh, kita bisa belajar dari sosok artis yang sudah mendunia sekaligus mengantongi berbagai macam prestasi bergengsi di kancah nasional pun internasional satu ini, yang katanya titisan The Beatles yakni BTS. Apakah mereka sebesar ini karena mereka punya privilege seperti lahir dari tiga agensi besar di korea? Tidak. Mereka lahir dari agensi kecil, katakanlah dari agensi miskin. 

    Lalu apa yang membuat mereka sesukses seperti sekarang ini? The power of brain and effort. Itu karena mereka pintar menciptakan lagu dan karena usaha mereka lebih dari 100%. Sadar mereka tidak punya privilege apapun, mereka hanya bisa menggunakan kapasitas otak mereka dan harus berusaha menciptakan privilege mereka sendiri sampai mengeluarkan keringat, darah, dan air mata. Setelah sebesar seperti sekarang ini, apakah mereka berubah? Nope. Mereka tetap apa adanya dan selalu down to earth.

    Jika meninjau kembali apa yang teman saya katakan sebelumnya, saya memang tidak bisa menyangkal kebenaran yang sudah ada di depan mata saya. Saya akui, saya mostly memang punya sahabat atau teman dan kenalan yang memang pintar dan berprestasi dalam bidang akademik. Apakah dengan begitu mereka mudah mendapatkan pekerjaan? BIG NO. Mereka sama menderitanya dengan orang-orang yang notabenenya kurang pintar atau cerdas dalam akademik. Bahkan mereka kalah. Dan itu semua karena koneksi dan uang.

    Di negara ini ternyata memang masih menomor sekiankan intelejenitas atau skill. Kalau kata teman saya, yang penting sekarang itu ‘money and good looking’. Lalu saya yang literally sedang berada di quarter life crisis, tidak punya koneksi, tidak punya uang, tampang pasaran, dan masih berjuang memperkaya diri dengan banyak belajar, jadi semakin terlempar jauh menuju dark hole. Saya seketika hopeless. Karena memang sudah luntang lantung sekian lama.

     Saya jadi ingat pertama kali saya diterima bekerja hanya karena saya punya english skill, tidak ada hal lain. Jika waktu itu saya tidak punya kemampuan english, mungkin saya sudah gugur. Mengingat hal itu, saya tersadar untuk tetap pada pendirian saya. Segimanapun dunia ini dikuasai oleh orang-orang yang kaya dan punya privilege, saya percaya akan ada waktunya koneksi dan uang akan kalah dengan kekuatan intelektualitas, meskipun mungkin tidak mudah. Dari sekian juta populasi di indonesia raya ini, apa mungkin tidak ada lagi orang-orang jujur penegak keadilan? Saya yakin masih ada.

    Buat kita yang sekiranya tidak punya privilege, tidak punya koneksi, dan tidak ber-uang seperti BTS, tidak perlu sedih. Kita masih bisa membangun privilege kita sendiri asalkan kita mau menggunakan kekuatan otak dan usaha kita. Mungkin hidup kita super pas-pasan, tidak kaya, dan tidak punya skill yang bisa dijual. But no worries. Yang namanya skill itu bisa dipelajari atau bisa didapatkan selama kita berusaha dan bersungguh-sungguh ingin mempelajarinya. Seperti kata Suga Nim "kita yang bodoh, hanya bisa bersuaha". Berusaha di sini maksudnya, berusaha menggunakan kapasitas otak agar bisa menjadi orang sukses. Orang bodoh mungkin akan bermain dengan uang, tapi orang berintelek akan bermain dengan otaknya.

                            

                                                   SALAM DAEBAK!

Komentar

Postingan Populer