Bagaimana Sebaiknya Menyikapi Perilaku Ghosting


Sebelum membahas tentang ghosting khususnya dalam sebuah hubungan pacaran atau PDKT, saya mempunyai beberapa pertanyaan terkait ghosting itu sendiri yakni :

Apakah ghosting itu wajar dalam sebuah hubungan pacaran atau PDKT?

Apakah ghosting selalu dinilai dengan sebuah kejahatan?

Apakah pelaku dari ghosting adalah seseorang yang patut disalahkan dan dibenci?

Manakah yang lebih baik, di ghosting atau nge-ghosting?

    Saya yakin semua orang mempunyai jawaban yang beragam. Mungkin bagi seseorang yang sudah pernah mengalami peristiwa ghosting, kemungkinan besar akan menjawab YES!!! dengan lantang untuk beberapa pertanyaan di atas. Atau bahkan seseorang yang belum pernah mengalami pun juga mungkin mempunyai jawaban yang sama. Sebelum mengulas lebih dalam lagi, coba kita lihat pengertian secara umum dari ghosting terlebih dahulu.

    Dilansir dari wikipedia bahasa inggris, ghosting didefinisikan sebagai bentuk dari mengakhiri seluruh komunikasi dan kontak  dengan orang lain tanpa adanya peringatan atau pembenaran yang jelas dan kemudian mengabaikan segala bentuk komunikasi yang dilakukan oleh orang tersebut. Jadi ghosting ini kalau di bahasa indonesiakan bisa diartikan dengan menggantung, yang mana kita tau bahwa menggantung sering kali diartikan dengan tidak adanya kejelasan dalam sebuah hubungan. Entah hubungan tersebut harus ke arah mana, salah satu pihak tidak bisa menentukan atau memberi kejelasan.


    Setelah saya memahami definisi ghosting dari berbagai macam sumber, saya pribadi sepertinya pernah merasa beberapa kali di ghosting dan mungkin juga pernah nge-ghosting orang khususnya dalam PDKT. Namun, sepertinya casenya agak berbeda dari ghosting-ghosting pada umummnya, karena sebenarnya ada beberapa bagian yang menurut saya tidak semestinya masuk dalam kategori ghosting tapi malah disebut ghosting oleh kebanyakan orang.

    Jika diartikan dengan singkat, padat, dan jelas, ghosting merupakan menghilang secara tiba-tiba dengan mengakhiri seluruh komunikasi. Secara tiba-tiba berarti secara mendadak, tanpa pamit, dan tanpa adanya alasan yang jelas. 

Semua orang di dunia ini memang butuh kejelasan bukan? Bukan hanya perempuan saja yang digadang-gadang butuh kejelasan dan kepastian, melainkan semua orang pada dasarnya harus mempunyai kejelasan akan suatu hal terlepas dari sex atau pun gendernya. Bayangkan saja jika seseorang hidup tanpa kejelasan, semua elemen-elemen kehidupannya pasti akan abstrak. Apalagi dalam hal hubungan berpacaran yang membutuhkan permainan emosional yang ekstra. Perilaku goshting ternyata bisa juga mempengaruhi kondisi psikis korbannya. Kebanyakan dari korbannya sampai mengalami kondisi emosional yang tidak stabil hingga depresi.

Lalu apakah ghosting itu wajar dalam sebuah hubungan pacaran atau PDKT?

    Saya pribadi tidak akan mengatakan bahwa sikap ghosting itu wajar, mengingat praktisi secara umumnya saja sudah tidak bisa dibenarkan, terlebih dalam sebuah hubungan berpacaran. Ketika kedua insan yang sudah sama-sama menyatukan diri melalui sebuah komitemen dengan berpacaran, tapi tiba-tiba salah satu pihak malah menghindar, kabur, lalu menghilang melalui pemutusan kontak secara tiba-tiba. 

    Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi psikis dari korban yang di ghosting. Saking berpengaruhnya pada kondisi mental, prilaku ghosting sampai disebut-sebut sebagai bentuk kejahatan emosional. Bagaimana tidak? Jika setiap harinya korban akan selalu diserang oleh berbagai pertanyaan-pertanyaan yang datang dari dirinya sendiri tanpa henti. 

    Hari-hari yang dilalui korban berubah menjadi sangat membingungkan dengan selalu mempertanyakan, “saya salah apa?”, “salah saya dimana?”. Karena ketika seseorang tiba-tiba menghilang atau menghindar, secara otomatis orang yang di ghosting pasti akan mengira bahwa penyebab dari menghilangnya orang tersebut semata-mata karena kesalahannya sendiri sebagai korban ghosting. 

Tanpa disadari, korban akan terus dihujati oleh berbagai macam pertanyaan yang menyiksa dirinya. Itulah kenapa ghosting disebut kejahatan emosional. Selain menjadi korban dari ke-tidak jelasannya seseorang, kita sekaligus menjadi korban atas tudingan-tudingan yang kita buat sendiri. Betapa melelahkannya dalam posisi tersebut.

Apakah ghosting selalu dinilai dengan sebuah kejahatan?

    Untuk menjawab pertanyaan ini, saya tidak akan melihat dari satu sisi saja yaitu dari sudut pandang si korban. Melainkan saya akan menjawab dari sudut pandang keduanya. Mengutip dari jawaban sebelumnya bahwa ghosting itu tidak wajar, bukan berarti ghosting bisa diartikan sebagai sebuah kejahatan atau tindakan kriminal. 

    Jika menganggapnya seperti itu, semua orang pelaku ghosting mungkin sudah masuk penjara saat ini. Namun, karena ghosting belum dimuat dalam perundang-undangan, jadi saya pribadi tidak akan menilai bahwa ghosting adalah sebuah kejahatan. Kenapa? Apa karena saya pernah menjadi pelaku ghosting dan tidak ingin dicap sebagai penjahat lantas saya menjawab seperti itu? Tentu tidak fergusou.

    Saya bahkan lebih sering menjadi korban ghosting dari pada menjadi pelaku. Apakah dengan begitu saya serta merta menyebut mereka penjahat? Belum tentu, karena terlepas dari menghilang atau menghindarnya seseorang, saya yakin mereka mempunyai alasan masing-masing atas perbuatan mereka, dan hanya merekalah yang tau alasannya. Entah alasannya karena mereka tidak berani mengatakannya secara langsung karena itu akan dianggap canggung, atau jika mengatakannya langsung akan lebih menyakitkan, sehingga dia memilih jalan pintas yakni menghilang. Mungkin orang yang seperti itu belum layak masuk kategori penjahat, tapi lebih tepatnya ‘pengecut’. 

    Saya mengerti prilaku ghosting akan sangat menyakitkan bagi korban, tapi alih-alih menganggapnya penjahat dan terus berfikir negatif terhadap si pelaku, kenapa tidak kita coba untuk memikirkan alasannya dari sudut pandangnya dia? Kenapa tidak kita coba untuk lebih memahami dan memaklumi sikap pengecutnya tersebut? Setidaknya dengan berfikir seperti itu, tingkat keparahan luka yang kita alami bisa lebih berkurang. Sudahlah, tidak perlu membesar-membesarkan kesedihan dari pikiran-pikiran buruk yang kita ciptakan sendiri. Pikirkan dari sudut pandangnya, pahami, lalu biarkan saja. Tidak mudah memang, tapi biarkan waktu yang bekerja.

Apakah pelaku dari ghosting adalah seseorang yang patut disalahkan dan dibenci?

    Kita ingin menyalahkan atau membenci seseorang yang sudah pernah nge-ghosting kita itu sepenuhnya hak kita pribadi. Jika dengan terus-terusan menyalahkan dan menyimpan dendam kesumat adalah cara untuk menyembuhkan kesakitan yang kita alami, silahkan lakukan saja. Silahkan ciptakan dan simpan energi-energi negatif yang kalian miliki untuk semakin membencinya, tapi jangan lupakan dampaknya ya bagi diri sendiri. 

    Namun, saya pribadi tidak akan memilih cara tersebut. Dari pada harus menyalahkan dan membenci orang yang mungkin lenyap dan tidak akan pernah kembali lagi di kehidupan kita, kenapa harus membuang-buang energi untuk orang yang sudah tidak ada? Anggap saja dia sudah meninggal. Ketika seseorang menghilang lalu lenyap untuk waktu yang lama bukankah itu istilah untuk sebuah kematian? Lagi pula semua manusia akan meninggal pada akhirnya, jadi mari anggap saja begitu. Mungkin dengan begitu, kita akan lebih merasa lega dan perlahan-lahan merelakan kehilangannya. Anyway, itu juga bisa disebut bagian dari berfikir positif.

    Kemudian mana yang lebih baik, di ghosting atau nge-ghosting? Di ghosting atau nge-ghosting sama-sama tidak ada baiknya. Pertanyaan tersebut sama saja dengan ‘disakiti atau menyakiti?’. Saya pun tidak akan memilih keduanya, karena saya yakin masih ada pilihan lain di luar itu. Jika masih ada pilihan lain, kenapa harus memilih antara keduanya?

    Sudah bukan waktunya lagi untuk meratapi, bersedih-sedih, dan meyiksa kondisi emosional kita sendiri dari sebuah prilaku ghosting. Mungkin satu minggu dari kejadian kita masih menunggu jawaban dan kedatangannya, tapi jika sudah satu bulan, mari untuk berhenti membuang-buang waktu dan energi untuk hal-hal yang tidak jelas. 

    Saya mengerti, setiap orang mempunyai rentang waktu yang berbeda-beda untuk merelakan dan bisa sembuh dari sebuah luka. Namun, saya tidak meminta kalian untuk harus sembuh dalam jangka waktu satu bulan, melainkan mulailah belajar untuk merelakan segala sesuatu yang sifatnya hanya sementara termasuk yang berhubungan dengan manusia. Setidaknya step by step harus bisa dilewati, mulai dari belajar memahami, merelakan, melupakan, lalu akhirnya pulih dan kembali lagi ke situasi normal. Ingat,  sebaik-baiknya penolong adalah diri sendiri setelah Tuhan.

 

 

 

Komentar

Postingan Populer