Belajar Konsep Mencintai Diri Sendiri (Self Love) Melalui Drama 'Run On'

 

    Berbicara tentang drama korea, memang tidak pernah lepas dari kata candu, karena pada setiap akhir episodenya selalu berakhir dengan rasa penasaran tidak terbendung yang ditinggalkan pada penontonnya. 

   Rasa candu tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh visual para pemainnya saja, melainkan alur/plot ceritanya yang terkesan sangat real dan seolah-olah bukan hanya fiktif belaka. 

   Tentu bukan itu saja, kehandalan para pemainnya yang sangat mendalami perannya masing-masing pun juga menjadi faktor terbesar yang membuat penonton drama korea menjadi ketagihan.

    Selain itu, sebagian besar drama korea sekarang ini mengisahkan atau menceritakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran hidup yang berharaga sebagai bentuk representasi pada kehidupan nyata. Dan saya mengakui bahwa saya pun sempat beberapa kali menerapkan nilai-nilai moral yang ada dalam drakor pada kehidupan pribadi saya. And it works. Itulah mengapa saya candu menonton drakor karena ada banyak sekali pembelajaran hidup yang mungkin tidak selalu bisa saya temukan di kehidupan nyata.

    Ada satu drakor lagi yang dimana sangat menarik perhatian saya akhir ini, judulnya Run On. Drakor tersebut mengisahkan antara seorang atlet lari (Ki Seon Gyeom) yang selalu mengabaikan/tidak mempedulikan tentang dirinya dengan seorang penerjemah (Oh Mi Joo) yang sangat amat mencintai dirinya. Karakter yang sangat bertolak belakang memang. Lalu apa yang membuat saya tertarik? Di sini saya tidak akan terlalu menyorot karakter Ki seon gyeom, melainkan karakter Oh mi joo lah yang sangat amat mencuri perhatian saya.


    Oh mi joo sejak kecil sudah terlahir yatim piatu. Dia sudah sangat terbiasa sendiri hingga membentuk karakternya menjadi sangat tangguh juga mandiri. Saking mandirinya, dia tidak suka dikasihani oleh orang lain dan tidak suka pula mengasihani orang lain. Bukan berarti dia tidak punya hati nurani ya, karena konteks ‘kasihan’ tidak selamanya mengandung arti kebajikan. 

   Seperti yang dikatakan oleh Nietzsche seorang filsuf Jerman dalam sebuah bukunya yang berjudul Senjakala Berhala, “perasaan kasihan melestarikan apa-apa yang mestinya hancur, perasaan ini membela hal-hal kehidupan yang tidak berhak hidup lagi dan harus dihancurkan, perasaan kasihan memberikan aspek kehidupan yang muram”. Kalau difikir-fikir lagi, memang betul katanya Nietzsche. Kasihan pada dasarnya akan membentuk pribadi yang lemah yang akan membentuk mental kerupuk. Itu satu yang membuat saya tertarik dengan Oh mi joo. 

   Selain mandiri dan bermental tangguh, Oh mi joo juga secara terang-terangan menampilkan keseteraaan gender melalui perannya. Dengan menyinggung konsep ‘seksis’, yakni perilaku yang mengkotak-kotakan sesuatu berdasarkan gender seseorang, mengisyaratkan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini bahkan jenis pekerjaan apapun itu tidak selalu ditentukan oleh jenis kelamin. Tidak perduli kamu laki-laki atau perempuan, kamu bisa melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan perempuan jika kamu laki-laki dan begitu juga sebaliknya. Hal tersebut juga ditampilkan oleh second female leadnya yaitu Seo Dan Ah yang memerankan sebagai daepyo atau wakil perusahaan yang mana tidak takut memperebutkan posisi CEO dengan adik tiri laki-lakinya terlepas dari dia perempuan yang menurut kebanyakan orang tidak layak menjadi seorang pemimpin.

    Bukan itu saja, karakter oh mi joo juga menegaskan kepada orang-orang yang menormalisasikan kesukesesan seseorang hanya karena dia good looking itu adalah anggapan yang salah. Karena tidak selamanya pernyataan "orang-orang yang 80% hidupnya dipermudah itu berkat dia cantik atau tampan" adalah valid. Kita manusia memang pintar sekali mengada-ngada hal yang seharusnya tidak jadi problem di kehidupan yang fana ini.

    Dan ada satu adegan lagi yang mana membuat saya semakin menyukai Oh mi joo, mungkin ini bisa dibilang klimaksnya, yakni ketika Oh mi joo rela memutuskan hubungannya dengan Ki seon gyeom. Berikut cuplikan dialog Oh mi joo


    Itulah definisi love yourself yang sebenarnya. Walaupun sekiranya dia masih mencintai Ki seon gyeom, tapi orang seperti Oh mi joo ini which is cerdas, logis, dan tau prioritasnya apa, adalah manusia yang tidak boleh punah di muka bumi ini. 

   Bila perlu, orang-orang seperti Oh mi joo inilah yang pantas dibudidayakan dan dilindungi dari kerusakan-kerusakan yang dibuat oleh manusia-manusia yang semestinya tidak lolos seleksi alam. Maaf, jika berlebihan, tapi begitulah seharusnya kita hidup. Mungkin jika masyarakat Indonesia didominasi oleh orang-orang seperti oh mi joo, saya yakin generasi penerus bangsa pasti bisa membuat Indonesia menjadi negara yang tidak kalah saing oleh negara-negara maju lainnya.

    Mandiri, tangguh, cerdas, mencintai diri sendiri, dan cantik sebagai nilai plus, memang pantas kita sematkan sebagai manusia sempurna pada karakter Oh mi joo. Bukan hanya Oh mi joo, para pemain lainnya pun menampilkan perannya masing-masing dengan sangat bagus dan tentunya bisa menjadi sumber inspirasi untuk self development. 

    Saya berharap, kita bisa belajar untuk lebih mencintai diri sendiri dan belajar banyak hal melalui drama satu ini, lalu mengambil nilai-nilai moral yang disampaikan. Masih belum terlambat untuk kita memperbaiki dan mengembangkan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 

Semua orang berhak menentukan hidupnya masing-masing terlepas dari gender yang dimiliki. Karena laki-laki dan perempuan hanya dibedakan oleh faktor-faktor biologis saja. Sudah saatnya kita menyadari bahwa jenis kelamin bukanlah suatu penghambat bagi seseorang untuk mengekspresikan dirinya. Sejatinya setiap orang itu berharga, setidaknya bagi diri mereka sendiri. Express yourself through self love. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer