Pink Beach Lombok
Apa
yang terlintas di pikiran kalian ketika mendengar pantai pink? Emang apanya sih
yang pink? Lautnya kah? Pasirnya kah? Atau pendatangnya yang berubah jadi pink
setelah mendatanginya? Aduh itu udah ouf of the box ya, dengan kata lain
gak real.
Untuk
menemukan jawabannya kebanyakan dari kita pasti mengandalkan akang google, karena di
google kita bisa melihat apapun yang belum pernah kita liat dan temuin di real
life. Kecuali jodoh, gak bisa cuy wkwkwk
Ketika kita browsing dan melihat foto atau gambar yang ingin kita lihat, akang google pasti bakalan nyodorin kita dengan gambar-gambar yang bikin kita hampir muntah darah saking takjubnya, terpesona, dan tidak jarang semakin meninggikan ekspektasi kita.
Apalagi ketika kita
ingin melihat suatu tempat atau destinasi wisata yang ingin kita kunjungi, pasti kita bakalan eksekusi tempatnya dulu kan. Dan gue yakin no debat, kita bakalan melihat se-abrek foto-foto yang mindblowing,
yang kemudian mentrigger kita untuk ingin cepat-cepat datang.
Namun faktanya sering kali foto-foto/gambar-gambar yang kita lihat di google di lebih-lebihkan
atau di edit dengan sangat krusial atau tidak sesuai dengan aslinya. Sama kayak
muda-mudi kebanyakan sekarang lah yaa... Pas lihat di instagram atau di facebook, kulit mulus nan glowing, putih pucet, look udah kayak artis-artis ftv deh
pokoknya, eeh pas liat langsung malah kayak mimi peri hahahah~
Lalu
bagaimana halnya dengan pantai pink? Khsusnya yang ada di lombok? Well, setelah gue browsing dan melihat foto-foto pink beach di google, pasirnya
extremely pink! Gorgeous banget! pokoknya ampuh banget untuk
membangkitkan ekspektasi wisatawan supaya banyak yang datang.
Kemudian bagaimana dengan aslinya? Apakah literally sama dengan yang ada di google?
Dengan sangat menyesal gue harus berkata “TIDAK”. Berhubung gue typecal orang
yang gak suka membangkitkan ekspektasi orang terhadap apapun itu, jadi gue bakalan sebisa
mungkin untuk mengatakan yang sebenarnya, yang dilihat oleh mata kepala gue sendiri.
Dan kita mesti ingat, yang menjadikan pantai itu pink kan coral-coral merah yang ada di sana, bukannya photoshop.
Sebagai penduduk asli Lombok yang bersuku Sasak, mungkin gue terkesan tidak mendukung parawisata Lombok dengan pernyataan gue sebelumnya. Padahal gue cuma ingin membagikan apa yang sudut pandang gue tangkap akan suatu hal, tentunya dengan sangat jujur dan tidak memanipulasi. Poinnya, kenapa kita harus berbohong hanya untuk menyenangkan orang lain? Jika ingin mereview sesuatu, ya sebaiknya reviewlah dengan jujur supaya orang-orang tidak berekspektasi lebih yang berakhir pada kekecewaan. Iya gak?
Back to laptop. Selama ini gue totalnya udah tiga kali ke pantai pink. Yang pertama tahun 2013, yang kedua tahun 2019, disusul november tahun 2020 kemarin ini. Apa yang membuat gue berkali-kali ke sana? Padahal satu atau dua kali mungkin sudah cukup? Karena pada tahun 2013 yang mana gue datang untuk pertama kalinya, pantai pink belum famous di kalangan wisatawan lokal pun mancanegara.
Saat itu akses jalan menuju ke sana sangat-sangat tidak manusiawi. Jalannya dipenuhi debu hidup, dalam artian struktur tanah di sana masih tanah lapuk, yang kalau musim panas akan sangat berdebu dan kalau musim hujan akan sangat becek dan tidak jarang membuat roda kendaraan tertanam oleh tanahnya. Tentu saja kondisi jalan seperti itu tidak terjadi sepanjang jalannya, setelah melewati jalan berdebu tersebut, akan ada aspal yang menyambut dengan kondisi yang mengocok perut. Lah kok? Detailnya kalian bisa lihat foto gue di bawah ini
Itu foto tahun 2019 dimana gue untuk kedua kalinya kesana, dan kondisi jalannya masih tidak berubah sejak tahun 2013. Mungkin tidak terlalu terlihat karena ditutupi oleh zebra bergaris kuning yang entah datang dari satwa mana wkwkwk
Setelah gue sampai ke pantainya, gue udah berekspektasi kalau apa yang gue lihat di google dengan aslinya bakalan sama atau gak jauh beda, tapi ZONK. Gue gak tau mungkin waktu itu gue kurang beruntung, karena pasirnya tidak terlalu pink atau sampai berwarna merah seperti yang gue lihat di google. Sayang, gue gak punya fotonya, tapi itulah kenyataannya. Padahal waktu itu tidak terlalu banyak wisatawan yang datang untuk menjamah pantai tersebut. Kecewa sudah pasti, tapi gue merasa banget kalo udah di bohongin sama google.
Hal itu semata-mata tidak menyurutkan semangat gue buat datang lagi. Walaupun jaraknya cukup lama sekitar 5 tahun terakhir gue ke sana, gue masih pengen banget melihat pantai yang pink sebenarnya. Lalu tahun 2019 hati gue tergerak untuk datang lagi, mengingat parawisata di Lombok lagi gencar-gencarnya dijamah oleh wisatawan lokal maupun wisatawan luar dari berbagai daerah juga mancanegara. Gue kemudian bergumam, “dulu aja pas lagi gak banyak yang datang pasirnya gak pink, gimana sekarang setelah dijamah banyak orang?” But never mind, gue tetap bertekad untuk datang cuman gue gak berharap lebih. Di perjelanan, gue cukup terkesima sama hutannya yang gersang dan pohon-pohon kering yang ada di kiri kanan gue, lantas gue turun untuk nengambil beberapa foto.
Dan ini hasilnya, view dari bawah dengan pesona khas Indonesia (hidung pesek) wkwkwk
Setelah cekrek
beberapa foto dan merasa puas, gue melanjutkan perjalanan dan akhirnya gue
sampai. Keadaan pantainya tidak jauh berbeda dengan 5 tahun yang lalu, pasir
pinknya masih tidak terlihat, bahkan sangat-sangat tidak terlihat.
Pemandangannya sih
memang udah cantik dari dulu yaa.. cuman gue masih kecewa aja belum liat pasir
pinknya. Walaupun foto gue udah gue sentuh dengan beberapa editan untuk bisa
memunculkan kesan pinknya, cuman tetep cuy, masih gak keliatan. Mungkin
setiap gue ke sana pantainya lagi kalah saing, jadi gak mau memunculkan
kecantikannya di depan orang yang lebih cantik dari dia hahahahah~
Setelah puas
bermain-main di pantainya, gue pun beranjak ke bukitnya. Ketika kalian pergi ke
pantai pink, sangat sangat tidak afdhol kalau kalian tidak menaiki bukitnya,
itu adalah hal yang wajib dilakukan. Jangan kecewa dulu kalau kalian tidak bisa
melihat pasir pinknya secara dekat, karena ketika kalian menaiki bukitnya, katanya sih... kalian bisa melihat gradasi pasir pinknya dari atas, walaupun
mungkin samar-samar.
Nah tuh, sekarang udah bisa keliatan kan gradasi pinknya? Makanya kalian wajib banget naik bukitnya, asalkan jangan naik siang-siang ya atau pas mataharinya lagi terik-terik banget, auto gosong! Panasnya gak bisa santai.
Selain untuk menikmati pantainya dengan segala keindahan yang dimilikinya, di pantai pink kalian juga bisa camping loh. November 2020 gue diajakin teman gue untuk camping di pantai tersebut. Awalnya gue rada parno karena masalah keamanan dan segala macamnya, cuman rasa parno gue hilang setelah gue tau kalau bukan cuman team gue yang camping disana tapi ternyata ada beberapa orang juga yang camping. Ditambah lagi, pantai itu dilengkapi dengan penjaga dan ada beberapa penjual yang tinggal di pesisir pantai itu yang tetap buka pada malam hari.
Malam hari memang terkesan gelap karena tidak ada listrik atau lampu yang menerangi pantai tersebut. Terlepas dari gelapnya malam pantai, gue untuk pertama kalinya tiduran di pesisir pantai pada malam hari memandangi milayaran bintang di langit. Gilak, ajib banget. Pengen tidur semaleman di pesisir pantainya cuman yah banyak banget anjing sliweran. Karena gelap, gue cuman bisa melihat banyak lampu yang menyala jauh di tengah lautnya. Setelah gue selidiki itu apa dan bertanya, katanya itu adalah budaya perairan yang dilakukan masyarakat sana. Pemandangannya terkesan begitu indah, karena terlihat seperti gedung-gedung perkotaan yang menyala di tengah laut.
Api unggun wajib banget kalian nyalain sebagai penerang, karena kalau mengandalkan penerangan dari bulan atau senter hp kalian saja, itu sangat tidak efisien. Males bawa kayu? Jangan khawatir. Kalian tidak perlu susah membawa kayu bakar dari rumah, karena pantai pink sudah dipenuhi oleh pohon-pohon kering yang di mana rantingnya banyak sekali berjatuhan. Nah, kalian bisa mengandalkan ranting-ranting pohon tersebut sebagai bahan bakar api unggun kalian biar tetap menyala.
Pada pagi hari, pasir pinknya masih tidak terlihat, hanya terdapat karang-karang berwarna merah saja yang terdampar di tepi pantai. Kemudian gue bergumam lagi, “oh mungkin dari hamburan karang-karang merah ini lah yang menjadikan pantai ini pink!” Setelah gue tanya, ternyata memang benar, itulah coral-coral yang dimaksud kebanyakan orang.
Mungkin sekarang sudah sulit untuk melihat pantai pink yang sebenarnya di Lombok, karena sudah terjamah oleh banyak wisatawan. Akan tetapi, jika kalian masih ingin melihat pantai pink yang sebenarnya, which is pasirnya memang benar-benar pink tanpa editan, sok atuh nyak, mangga ke NTT atau labuan bajo. Sebagai penutup, i will show you a piece of my pics...
Last!!! Candid bak super model hahahaha
See you~~~










Komentar
Posting Komentar