Bukit Merese
“Bukit, bukit apa yang
baperan?”
“Bukit merese!”
Eh itu merasa yaa
wkwkwwk
Setelah berlari ke
pantai, lalu menulusuri air terjun, kali ini gue memilih untuk terseok ke salah
satu bukit yang ikonic di Lombok. Kenapa gue sebut ikonic? Karena di antara
banyaknya bukit yang bertebaran di Lombok, bukit merese adalah yang paling
popular, mudah dijangkau dan gorgeous di kalangan wisatawan, versi gue. Hal itu dibuktikan
dengan setiap harinya bukit tersebut tidak pernah sepi pengunjung, bahkan tim
dari MTMA Trans TV sudah beberapa kali menjejakkan kaki di bukit tersebut.
Bukan dari tim MTMA saja, program Trans TV lainnya pun juga acap kali
mengunjungi bukit yang menurut gue ajib banget buat healing tersebut.
Yap! Bukit itu tidak
lain tidak bukan adalah Bukit Merese. Merese berlokasi di Lombok Tengah yang
secara spesifik berjarak beberapa kilo dari pantai kuta dan berdekatan dengan
tanjung aan. Menurut gue parawisata di Lombok Tengah itu 98% terbaik! Kenapa
gue gak kasi 100%? Karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Yang jelas, ketika
kalian memilih untuk berlibur ke Lombok Tengah, gue bisa jamin tidak akan ada
terbersit rasa penyesalan sedikit pun dibenak kalian setelah berkunjung ke
destinasi-destinasi yang ada di sana. Segala hal disana, literally still pure
bak pantat bayi wkwkwkwk.
Berbicara tentang bukit merese, gue udah berkunjung 2 kali. Kunjungan gue yang pertama kali yaitu tahun 2016 which is gue memilih untuk pergi pukul 11 pagi dan sampai di sana kira-kira pukul 12.30 siang.
Pada waktu itu, cuacanya benar-benar cerah, dengan langit birunya yang benar-benar matching dengan warna hijau bukit tersebut memberikan efek warna kontras yang cantiknya bukan main. Namun, gue terlampau bodoh. Untuk first timer kayak gue, pergi ke bukit tanpa mempertimbangkan apapun termasuk cuaca adalah benar-benar kebodohan yang mutlak. Gimana gak? Gue menaiki bukit tersebut pada siang hari dimana matahari lagi di atas kepala gue dan siapuntuk menyedot cairan tubuh gue.
Ditambah lagi trek pendakiannya gak santai.
Sulit buat gue harus memijakkan kaki gue dimana karena saking tidak teraturnya
bebatuan yang gue lewatin, alhasil gue menggunakan tangan sebagai alat bantu.
Meskipun tidak terlalu menanjak, dengan kondisi trek yang seperti itu dan panas
matahari yang manja memancarkan sinar UVA dan UVB nya, bisa membuat kalian lemah seketika. Believe it or not, at least itu yang gue rasain. Jadi kalau
gue boleh nyaranin, sebaiknya datang pagi-pagi atau sore hari. Menurut gue itu
adalah waktu yang pas untuk mengunjungi bukit tersebut.
Setelah sampai di atas
bukitnya dan terdehidrasi berat tanpa membawa seteguk minuman pun, sontak mata
gue terbelalak dengan pemandangan di atas bukit tersebut. Benar-benar
marvelous! Yang tadinya gue kehausan dan tubuh gue rasanya terseok, rasa haus
gue tiba-tiba hilang dengan pemandangan dan angin yang seakan-akan ingin
menerbangkan tubuh gue. Gue gak ada hentinya takjub dengan pemandangan yang
disuguhkan Tuhan ke gue. Gue benar-benar berdiri di atas bukit yang di
kelilingi oleh pantai dan lautan lepas, gue merasa “ini nih yang dinamakan
surga dunia”.
Karena di atas bukit
hampir tidak ada pepohonan satu pun, gue mulai uring-uringan mencari tempat
untuk berteduh, daaaan tidak ketemu. Namun dengan anginnya yang bertiup lembut
dan sesekali gak sopan, berhasil menundukkan rasa uring-uringan gue. Hari itu
gue merasa segala sesuatu berpihak pada gue, entah dari segi cuacanya pun
suasananya.
Selang beberapa tahun,
gue kembali berkunjung ke bukit merese pada oktober 2020 tahun lalu. Kali ini
tanpa adanya rencana yang signifikan, gue diajak salah satu teman gue untuk
menikmati sunset di bukit tersebut. Saat itu momennya sangat cocok. Gue yang
kala itu benar-benar stuck di rumah dengan keadaan otak gue yang kalut, tidak
ada alasan bagi gue untuk menolak ajakan teman gue tersebut. Tanpa pikir
panjang, gue langsung say YES! AYOK!
Saat itu gue berangkat
pukul 03.15 pm, tapi harus ngaret dikarenakan ban motor teman gue pecah dan
harus menunggu untuk ditambal yang mana memakan waktu kurang lebih 20 menit
lamanya. Setelah selesai ditambal, gue melanjutkan perjalanan lagi. Saat itu
cuacanya agak sedikit mendung, dan gue gak berharap lebih untuk bisa melihat
sunset. Tapi melihat sunset adalah bukan satu-satunya tujuan gue untuk pergi,
melainkan gue cuman ingin healing. Iya healing, penyembuhan otak dan batin gue
setelah terkurung berbulan-bulan di rumah. Gue juga penasaran bagaimana rasanya
menikmati pemandangan laut dari atas bukit dan menyaksikan pergantian sore ke
malam hari.
Sesampai gue di lokasi,
gue melihat ada beberapa perubahan, yaitu jarak pendakiannya relatif lebih
pendek dan jalannya pun lumayan bersahabat dari 3 tahun yang lalu. Gue merasa,
yaa bagus sih.. memudahkan wisatawan juga. Setelah sampai di atas, waduh...
entah kenapa yaa feelnya gue selalu dapet. Rasanya, gak ada beban sama sekali
di hidup ini hahahaha
Gue duduk termenung memandangi laut lepas, dan kali ini gue membawa sebotol kopi yang ingin gue teguk sembari menikmati indahnya pemandangan. Gue tenggelam dalam senja. Perasaan gue seakan-akan... ah tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Intinya, berkunjung untuk menikmati sunset di bukit merese adalah pilihan yang sangat bagus. Dan tak terasa, malam pun sudah tiba. Rasa ingin tetap duduk menikmati laut lepas dan luasnya bukit, membuat gue sulit beranjak untuk kembali pulang. Dan ternyata benar adanya dengan kata yang disematkan untuk Lombok tersebut, “jangan ke lombok nanti gak mau pulang”.



Komentar
Posting Komentar