Air Terjun Benang Stokel & Benang Kelambu
Sebagai seseorang yang menyukai warna biru, jiwa gue begitu tenang
melihat laut dan langit yang biru. Kedua elemen itulah obat penenang buat gue
di kala gue kalut even depressed. Oleh karena itu ketika gue liburan, gue
sering kali memilih untuk pergi ke pantai daripada ke destinasi lain. Not for swim but to feel
relaxe. Gue kalau ke pantai kemungkinan gue bakalan mandi itu 0,000000001%.
Kenapa? Karena gue kurang suka aja sama tekstur airnya yang cenderung lengket.
That is why menurut gue ke pantai itu memang lebih enak kalau pantainya di
pandangin aja daripada harus nyebur ke dalamnya.
Gue bisa bilang bahwa 80% pantai terfavorit menurut wisatawan yang
ada di Lombok ini, gue udah kunjunguin semua. Walaupun yang namanya pantai
bakalan sama aja dengan laut birunya tapi gak berhenti disitu aja,
pantai-pantai di Lombok memang punya ke-khasannya masing-masing.
Okay. Gue gak bakal bahas pantai disini melainkan air terjun. Gue
yang dikategorikan penggemar view of beaches ini tidak jarang untuk menolak
pergi ke air terjun. Gue berfikir bahwa there is nothing special about
waterfall. Cuman air jatuh dari bebatuan yang lebih tinggi doang kan yak?
Wkwkwkwkw
Gue sadar bahwa pemikiran gue tentang air terjun begitu sempit, karena
saking tidak punya ketertarikannya gue sama air terjun. Padahal ada banyak air
terjun yang cantik-cantik di Lombok yang berhasil menarik para wisatawan lokal
bahkan luar untuk datang. Dan gue sebenarnya tau ada banyak hal lain yang bisa
dinikmati selain melihat air jatuh dari ketinggian doang. Dan hal itu terbukti
setelah gue memutuskan untuk pergi ke air terjun untuk pertama kalinya.
Air terjun yang gue kunjungi kali ini berlokasi di Lombok Tengah dan
memakan waktu kurang lebih 1 jam 40 menitan dari rumah gue. Dengan akses jalan
yang berkelok-kelok dan agak menanjak bukan suatu penghalang bagi gue untuk
datang karena tipe jalannya yang cenderung satu arah dan tidak mengocok perut
(aspalnya mulus) memudahkan gue untuk sampai tujuan tanpa harus salah
arah.
Sampai di lokasi, biaya parkir dan tiket masuk tentu menjadi hal
yang selalu dipisahkan. Untuk parkir motor 2k dan mobil 3k. Sementara biaya
masuk untuk orang dewasa 5k dan anak-anak mungkin sama atau dibawahnya gue
kurang inget.
Setelah masuk ada beberapa pedagang makanan dan minuman di kiri
kanan setelah pintu masuk berjejer dengan rapinya yang akan menyambut. Hal itu
memang sudah disediakan tempat khusus untuk para pedagang yang akan memanjakan
para pengunjung dengan berbagai makanan dan minuman yang mereka sediakan.
Kemungkinan untuk kelaparan setelah turun dari air terjun atau sekedar
menyiapkan tenaga sebelum naik adalah alasan yang tepat untuk keberadaan mereka
berdagang disana.
Dikarenakan gue dan teman-teman gue adalah tipe-tipe orang yang
melalaikan sarapan di rumah ketika akan bepergian, 5 dari kami tidak ada yang
sarapan sebelum pergi, alhasil gue berlima adalah tim yang mengisi tenaga dulu
sebelum naik. Makanan disana enak, berasa seperti masakan rumahan banget.
Penjualnya pun ramah, tipe orang Indonesia banget. Perut pun kenyang dengan
sejahtera membuat gue berat melangkahkan kaki gue untuk menanjak ke lokasi air
terjun.
Karena ada 2 air terjun dalam satu tempat jadi ada dua cara untuk
sampai ke air terjun tersebut yaitu dengan berjalan kaki dan memakai ojek
khusus. Air terjun yang pertama dinamakan benang stokel dan air terjun yang
kedua adalah benang kelambu. Kenapa namanya benang? Karena penampakan airnya
yang terkesan memang seperti benang maka orang-orang sana sepakat menamainya
dengan nama tersebut. Arti stokel sendiri gue kurang tau, sementara kelambu gue
yakin kalian udah pada tau.
Dari dua cara tersebut, indeed gue prefer jalan kaki. Bagi first
timer kayak gue, memilih untuk naik ojek adalah pilihan yang cupu. Walaupun
ojek bisa memperpendek jalur yang dilalui, tapi gue rasa gak bakalan ada
feelnya kalau gue harus memilih naik ojek. Terkadang kita lebih bisa menemukan
hal yang berharga di perjalanannya daripada sampai di destinasinya. Dan
terbukti, gue menemukan kelelahan yang bukan main cuy hahahahah
Gue harus berjalan naik turun sejauh kurang lebih 2 km untuk sampai
ke air terjun 2, dan tentu saja sebelum ke air terjun 2 gak afdhol banget kalau
gak mampir ke air terjun 1, yaitu benang stokel.
Berikut view benang stokel. Terkesan dangkal dan tidak bisa
dinikmati dengan berenang. Terelepas dari kedangkalannya, biasanya wisatawan
hanya akan mandi di bawah air terjunnya saja atau kebanyakan akan mengambil
foto bahkan hanya tempat untuk rehat sejenak sebelum lanjut ke air terjun 2.
Jujur gue masih kurang takjub dengan air terjun benang stokel, tapi disisi
lain gue mendapatkan hal baru yang gue lihat dan rasakan setelah melihat air
terjun secara langsung. Airnya yang begitu jernih, dingin, dan percikan air
terjunnya langsung yang mengenai gue adalah hal baru tersebut. Biasanya juga
gue kena percikan air kobokan nyokap wkwkwkwk
Setelah mengisi tenaga, gue melanjutkan perjalanan gue untuk ke air
terjun 2. Jalannya yang super menanjak membuat kuku jempol kaki gue mengalami
tekanan batin yang bukan main. Padahal waktu itu gue pakai sepatu, cuman sepatu
yang gue pakai tidak cocok untuk perjalanan ke air terjun. Saran gue, ketika
pergi ke air terjun, memakai sendal yang nayaman adalah pilihan yang tepat juga
memudahkan kalian untuk sekedar menikmati air terjun hanya dengan merendam kaki
kalian tanpa harus mandi.
Setelah kurang lebih 30 menitan berjalan menanjak dan menuruni
tangga, akhirnya gue sampai di air terjun benang kelambu. Di sinilah mata gue
benar-benar takjub akan keindahan air terjun tersebut. Air terjunnya gak deras
sama sekali melainkan benar-benar seperti benang yang terurai dan
menggelantung. Asli, cakep parah. Area air terjunnya lebih luas dari pada air
terjun benang setokel, juga dilengkapi dengan beberapa telaga/kolam di bawah
air terjunnya sehingga bisa memuaskan pengunjungnya untuk mandi bahkan
berenang.
Inilah penampakan air terjun benang kelambu...
Gue memang tidak mencatumkan view area air terjunnya secara complete, karena saat itu gue hanya berfokus untuk mengambil beberapa foto diri gue, mengingat saat itu gue pergi pada hari weekend yang notabene pengunjungnya
lebih padat daripada weekdays.
Gue juga waktu itu belum kepikiran sama sekali untuk membuat blog
tentang perjalanan liburan gue, jadi gue sama sekali gak kepikiran untuk
mengambil foto destinasinya. Mungkin kalau waktu itu gue udah ada niatan buat
ngeblog tentang liburan gue, gue benar-benar akan fokus memotret view dan
segala area destinasi yang gue kunjungi daripada memotret diri gue sendiri.
Kedepannya akan seperti itu.
Setelah puas menikmati segar dan sejuknya alam air terjun, part yang
paling bikin males adalah kembali dengan menaiki tangga. Ugh... benar-benar
melelahkan. Tapi gue ada satu trik bagaimana supaya tidak terlalu merasakan
kelelahan ketika dalam perjalanan menuju air terjun yaitu cukup set mindset
dengan “sekalian olahraga”. Dan serius, setelah gue pasang mindset kayak gitu,
gue mau jalan nanjak turun melewati tangga hingga bebatuan memang capek, tapi
gak kerasa karena di otak gue udah
ke-setting “namanya juga olahraga, wajar capek”. Jadi selain puas
menikmati indahnya alam juga sehat buat tubuh dan pikiran.
See ya~





Komentar
Posting Komentar