Menjadi Manusia Cerdas Dengan Konsep Long Life Learning

                                                                             


Kata siapa kalau belajar itu harus tentang akademik terus?

Dan kata siapa kalau belajar itu harus di institusi formal seperti di sekolah atau kampus saja?

    Kata belajar sepertinya terlalu kaku jika hanya dikaitkan dengan pembelajaran akademik yang mengharuskan seseorang untuk duduk di dalam ruangan kelas lalu menerima segudang materi dari berbagai mata pelajaran yang berbeda.

    Konteks belajar memang tidak pernah lepas dari buku, pengajar, dan murid atau mahasiswa/i. Itu lah yang masyarakat umum ketahui. Belajar itu di sekolah. Belajar itu dengan banyak membaca buku. Belajar itu bagaimana caranya berhitung dan menggunakan rumus. Dan belajar itu dengan mengerjakan tugas dari guru atau dosen.

    Beberapa asumsi yang sudah saya sebutkan di atas adalah pemahaman akan belajar yang kebanyakan orang-orang pahami secara umum. Memang benar. Namun yang salah adalah ketika kita menjadikannya sebagai satu-satunya acuan atau patokan.

    Padahal jika ingin lebih dipahami lagi, belajar tidak melulu tentang buku, sekolah, kampus, dan juga guru. Pengalaman, orang-orang sekitar, lingkungan, alam, praktikal di kehidupan nyata, ditambah lagi dengan adanya tekhnologi yang semakin canggih, semua itu bisa dijadikan bahan pembelajaran. Sayang sekali, masih banyak dari kita yang masih menyia-nyiakan alat yang sudah disediakan oleh semesta tersebut.

Lalu efeknya apa?

    Ketika masih banyak orang yang belum tau dan masih berpatokan pada pemahaman-pemahaman general seperti di atas, banyak orang yang akhirnya berhenti untuk belajar ketika mereka sudah lulus sekolah atau kuliah dan juga sudah bekerja. Mereka mengira bahwa ketika mereka sudah selesai menempuh jenjang pendidikan, kewajiban mereka untuk belajar juga telah usai.

    Pembelajaran seharusnya tidak mengacu pada hal-hal akademik saja yang katanya bertujuan untuk membentuk SDM yang berkualitas. Memang penting dan juga sangat perlu. Akan tetapi, daripada membentuk seseorang hanya cakap dalam hard skill saja, kenapa tidak untuk mengembangkan soft skillnya juga? Bukankah akan lebih bagus jika seseorang mempunyai keduanya? Dalam artian seimbang antara hard dan soft skill?

    Hard skill sering kali berkaitan dengan prestasi akademik. Masyarakat akan menyematkan kata “pintar” jika seseorang mempunyai IQ yang tinggi lalu mendapatkan juara pada ranah sekolah dan cumlaude di ranah kampus. Juga banyak sekolah dan kampus masih menitikberatkan pada penciptaan generasi pintar dalam akademik tapi lupa akan pintar menjadi manusia.

    Adanya kemampuan soft skill merupakan kata lain dari pintar menjadi manusia. Seperti yang telah diketahui, soft skill berkaitan dengan bagaimana cara berkomunikasi yang baik, memecahkan masalah, berfikir kritis, mengatur atau mengolah emosi, dan kemampuan EQ lainnya.

    Banyak orang pintar dengan IQ tinggi tapi EQ mereka rendah. Disebabkan sudah terbiasa dibentuk untuk bagaimana menjadi pintar di subjek tertentu alih-alih menyeimbangkannya dengan soft skill yang seharusnya setiap manusia harus miliki. Alhasil terciptalah ke-jomplangan antara IQ dengan EQ yang membuat seseorang terlihat belum baik sebagai manusia meskipun ia pintar dari segi akademik.

    Dengan masih minimnya pembelajaran soft skill yang sekolah dan kampus fasilitasi, tidak semata-mata membuat kita enggan bahkan apatis untuk mencari tau sekaligus mempelajarinya. Jika sekiranya kita merasa soft skill kita masih buruk, sudah menjadi tugas kita untuk mempelajarinya sendiri daripada mengandalkan dan menunggu guru/dosen untuk mengajari kita.   

    Long life learning berarti belajar seumur hidup. Belajar hal-hal baru, skill-skill baru, dan belajar meng-upgrade diri adalah suatu hal bersifat substansial yang dibutuhkan untuk membawa perubahan bagi diri dan generasi yang lebih baik kedepannya. Penting untuk menerapkan konsep tersebut pada setiap orang. Walaupun tidak semua orang suka belajar, tapi setidaknya mereka masih bisa belajar dalam praktikal kehidupan nyata.

    Dengan adanya mindset long life learning, saya percaya bahwa kita akan membawa movement atau perubahan yang signifikan pada diri sendiri dan secara tidak langsung akan membawa perubahan juga pada Indonesia tentunya ke arah yang lebih baik meskipun dalam skala kecil. Lebih baik melakukan small movement daripada tihink big tapi tidak terealisasi nyata.

    Bukankah untuk memajukan negara kita perlu memperbaiki kualitas SDM kita terlebih dahulu? Indonesia butuh orang-orang yang terus belajar menjadi versi terbaik buat diri mereka, orang-orang yang mempunyai fikiran the catalyst (pembawa perubahan ke arah yang lebih baik), dan tentunya orang-orang yang tidak pernah berhenti untuk belajar dari segala aspek kehidupan.

    Long life learning akan membentuk pemahaman bahwa hidup adalah tentang berproses, bukan tentang berhasil atau gagal. Selama adanya kemauan untuk mengedukasi diri demi membawa perubahan dengan terus belajar sepanjang hayat, maka konsep kegagalan dan keberhasilan dalam hidup sudah tidak penting lagi.

Be a good learners for the better of life.

 

 

 

Komentar

Postingan Populer