I'm Okay If I'm Being Hurt
Sering kali saya berfikir, apa sebenarnya yang saya cari di dunia fana ini jika bukan kedamaian? Tapi entah kenapa kebanyakan orang di dunia ini sangat berusaha mencari bagaimana caranya menjadi bahagia daripada damai. Mereka bahkan menggunakan berbagai macam metode hanya untuk menemukan kebahagiaan mulai dari kekayaan, karir, atau pun kesuksesan.
Tiga komponen seperti uang, karir yang stabil, dan pencapaian yang tidak ada habisnya untuk didapatkan adalah hal yang pada umumnya orang-orang kebanyakan pasang sebagai goals mereka. Bagaimana tidak? Bukankah alasan hidup di dunia pada dasarnya memang itu? Sudahlah, saya pun tidak akan menyangkal hal tersebut.
Namun, saya salah ketika saya mematokkan komponen-komponen tersebut sebagai sumber kebahagiaan saya. Saya sadar bahwa ketika saya menggantungkan kebahagiaan saya pada sesuatu yang bersifat duniawi, saya tidak akan pernah mendapatkan kedamaian bagaimanapun banyaknya uang serta suksesnya karir yang saya miliki.
Semakin saya berkembang terutama dari segi intrapersonal, saya menyadari kebahagiaan bukanlah sesuatu yang sangat ingin saya gapai. Semenjak itu, saya tidak pernah lagi berusaha mengorek-ngorek internet lalu mengetik di search engine "how to be happy", atau sekedar membaca berton-ton artikel, dan menonton kisah-kisah orang sukses bagaimana cara mereka menemukan kebahagiaan mereka.
Kebahagiaan tidaklah membutuhkan kiat-kiat. Karena ia akan muncul sendiri berbentuk sesuatu lahiriah yang cukup dirasakan. Bukan sesuatu yang membutuhkan usaha untuk digapai layaknya cita-cita atau pun impian.
Saya juga menyadari bahwa keberadaan orang-orang di sekitar saya seperti keluarga, teman, kerabat, atau bahkan pasangan (jika saya memilikinya kelak), mereka tidaklah membawa kebahagiaan bagi saya justru kedamaian. Kedamaian yang membuat saya merasa aman, nyaman, dan tidak mengkhawatirkan apapun ketika saya berada di tengah-tengah mereka.
Secara tidak langsung kedamaian itu ternyata membawa kebahagiaan yang sesungguhnya bagi saya. Sesuatu yang tidak bisa diungkapkan namun dirasakan saja sudah membuat diri tenang. Jadi, sebisa mungkin ketika ada sesuatu yang sekiranya mengganggu ketenangan diri, saya tidak akan menghindarinya, justru harus saya selesaikan dan temukan solusinya supaya saya bisa kembali ke mode damai.
Barangkali di usia saya yang sudah menginjak 1/4 abad ini, masalah keuangan yang berhubungan langsung dengan ke-tidak stabilan karir dan juga masalah pasangan adalah dua komponen yang sering kali mencoba meretakkan kaca kedamaian yang saya miliki. Mau tidak mau, jika terlalu sering di bentur, setebal apapun pelindung yang saya miliki pada akhirnya ia akan retak bahkan pecah.
Bukan sesuatu yang bersifat fragile, tapi begitulah dasarnya manusia jika sudah lolos seleksi alam. Tersandung dulu untuk membentuk karakter yang kuat. Saya sering di bentur oleh dua komponen di atas sampai pecah. Impian yang tidak tercapai dan kegagalan karir pernah membuat saya mati rasa. Belum lagi problematik percintaan yang seperti benang kusut.
Saya belajar banyak dari hal-hal dan orang-orang yang pernah menyakiti saya. Awalnya saya benci jika harus berada di posisi yang tersakiti. Saya melawan diri dan menolak jika harus disakiti. Tapi saya salah lagi, semakin saya men-denial kesakitan yang harus saya alami semakin saya akan merasa sakit.
Lalu saya belajar menerima. Baiklah, saya sakit hati dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Yang perlu saya lakukan hanyalah menerima kesakitan itu sendiri lalu menunggunya untuk pulih. Entah butuh waktu berapa lama, yang penting saya terima saja dulu.
Ternyata dengan lebih menerima dan mengakui kesakitan yang saya alami, kedamaian itu datang dengan sendirinya tanpa dipaksa untuk muncul. Menerima sesuatu yang menyakitkan mungkin sulit. Tapi dengan sedikit mindfulness atau menyadari lalu menerima adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk kedamian dalam jangka panjang.


Komentar
Posting Komentar