Stop Meng-kampanyekan Pernikahan

 


    Saya bukanlah salah satu dari banyak orang liberalis yang akhir-akhir ini banyak menolak atau tidak ingin menikah serta mempunyai anak. Fenomena orang-orang yang tidak ingin menikah dan tidak ingin punya anak tersebut hanyalah bentuk representasi dari kebebasan hak asasi manusia.

    Lantas pantaskah kita (orang lain) merubah pilihan mereka yang sekiranya sudah mereka tentukan melalui berbagai pertimbangan dengan cara meng-edukasi, menasehati, atau bahkan terus menerus meng-kampanyekan bahwa setiap manusia ‘harus’ menikah? Tentu tidak bukan? Karena hak asasi manusia selalu akan dibatasai oleh hak asasi manusia lainnya. Hak asasi yang kita miliki, sesungguhnya terbatas.

    Lalu apakah kita berhak untuk tidak menerima pilihan orang-orang yang memutuskan untuk tidak menikah? Tentu, kita berhak. Kita berhak keberatan, tidak menerima, bahkan tidak suka dengan pilihan mereka, tapi hanya sebatas itu saja. Karena di samping itu kita mesti ingat posisi kita sebagai orang lain. Bukanlah bagian dari tugas kita untuk harus merubah pilihan hidup mereka.

    Sekalipun kita orang tua, sanak saudara, atau bahkan kerabat dekat mereka, secara harfiah kita masih dikategorikan sebagai orang lain. Karena pada dasarnya, manusia bersifat individu yang kebetulan hidup berkelompok melalui sosialisasi.

    Ketika seseorang menolak atau menunda untuk menikah pada usia yang ditetapkan oleh masyarakat untuk menikah yakni usia 25 tahun, tidak seharusnya peran orang tua pun keluarga dan orang-orang terdekatnya disalah gunakan untuk terus mendorongnya untuk menikah sekalipun dia masih di bawah tanggungan orang tuanya.

    Mengingat hak asasi yang dimilikinya sebagai seorang individu yang utuh seharusnya tidak boleh direnggut oleh orang lain lewat iming-iming orang tua pun keluarga. Sejak kita lahir sampai dewasa, tidak ada yang boleh mencabut kepemilikan hak asasi manusia yang kita miliki.

    Lalu apa yang harus kita lakukan ketika akhir-akhir ini pernikahan usia dini sedang marak dilakukan, kemudian para milenial mulai berbondong-bondong meng-kampanyekan untuk segera menikah secara langsung maupun tidak, lalu orang tua kita yang terus meminta anaknya menikah karena setiap hari scrolling facebook hingga termakan oleh postingan-postingan manis berbau pernikahan? Menjauhlah dari arus itu.

    Tidak peduli seberapa kerasnya pernikahan dideklerasikan seperti sebuah ajang bergengsi, semua tetangga dan circle kita yang sudah mulai sold out, dan orang tua yang malu karena berfikir anaknya tidak laku, just don’t give a f*uck. Pernikahan bukanlah sebuah tren yang harus kita ikuti ketika pernikahan hanyalah sebuah pelarian dari kehidupan yang buntu dan sebuah pilihan terakhir bagi sebagian orang yang hidupnya sudah terpenuhi.

    Bukan sebuah kewajiban bagi kita  harus mengikuti dan me-nyamaratakan garis kehidupan yang kita miliki dengan orang lain pun yang telah ditentukan oleh masyarakat. Bahkan kita tidak perlu melakukannya. Karena orang cerdas, tidak akan mudah terbawa arus hanya karena arus itu dipenuhi oleh banyak orang. 

    Lagi pula, kehidupan seseorang bukanlah ditentukan oleh norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, melainkan ditentukan oleh dirinya sendiri. Apa yang dilakukan oleh banyak orang, tidak perlu dilakukan juga jika hal tersebut tidak bernilai untuk kita lakukan secara pribadi. Intinya, janganlah takut menjadi berbeda.

    Untuk orang-orang yang masih gemar meng-kampanyekan pernikahan melalui media maupun verbal dan secara tidak sadar, berhentilah. Berhentilah memasang umpan pada orang-orang yang belum terlalu mengerti tentang bagaimana seharusnya kehidupan itu dikatakan layak bagi seorang individu. Dan jangan perlahan-lahan mematahkan masa depan para generasi penerus bangsa melalui indahnya tampilan luar sebuah pernikahan.

Komentar

Postingan Populer