Hih, Sok Inggris!
Setelah sekian lama hal ini bersemayam di dalam tubuh
saya entah di bagian mana. Hingga akhirnya pop up lagi layaknya notification bagi
kepala saya. Bahwa ini saatnya saya harus membahas sekaligus meluruskan anggapan-anggapan
liar kebanyakan orang dan masih menjadi ke-salah pahaman sampai saat ini yakni, “sok inggris!”
Pernah menyukai suatu bahasa tidak?
Yang menurut kalian unik, enak di dengar, dan gampang ditiru?
English? Spanish? Japanese? Korean? Mandarin? Thai? Tagalog? Lainnya?
Mungkin saat menonton film, nonton youtube, mendengarkan lagu, kita merasa bahasa yang mereka gunakan 'keren'. Telinga kita tanpa sadar ngerasa enak ketika mendengarkan percakapan yang terjadi di sebuah film yang kita tonton. Ngerasa enak dilantunan lagu yang mereka nyanyikan.
Saya pun pernah merasakan itu.
Saya mendapati bahwa ketika orang berbicara dalam bahasa Inggris itu keren. Pengucapannya juga tidak terlalu rumit bagi saya. Saya pun tanpa sadar menggemari bahasa itu.
Saya passionate untuk mempelajarinya. Hingga tertanam di alam bawah sadar saya menjadi sebuah kebiasaan yang harus saya ucapkan setidaknya rutin dalam sehari. Sebuah bukti bahwa alam bawah sadar saya masih berfungsi.
Tidak ada unsur kesengajaan yang dilibatkan dalam hal tersebut. Saya fikir, itu hanya kerja normal otak manusia ketika menggemari sesuatu, maka otomatis akan ter-praktekan dalam kehidupan sehari-harinya.
Jadi jangan salahkan orang yang ketika suka k-pop atau drama korea, maka dia tiba-tiba akan sering menggunakan frasa korea. Karena itu membuktikan sinyal yang dikirim oleh otaknya masih berjalan dengan baik. Dan itu sangat normal.
Tidak ada unsur kesengajaan. Kesengajaan supaya dilabeli aneh, cari perhatian, sok iyeh, hanya karena menggunakan bahasa selain bahasa ibu, yakni bahasa Indonesia. Kondisi tersebut juga bisa disebut dengan ‘spontanitas’, yang mana spontan memiliki arti tanpa disengaja/diminta.
Bahasa inggris yang sudah kita tau menjadi bahasa ke-dua yang ‘seharusnya’ kita kuasai setelah bahasa asli kita sekaligus menjadi bahasa dunia, penggunaannya bisa kita temukan di manapun. Bahkan di daerah terpencil sekalipun.
Selain itu, ada banyak hal seperti sistem yang mengharuskan kita untuk setidaknya harus mengerti bahasa inggris. Sistem membawa kita ke peradaban yang lebih modern yang mau tidak mau, kita harus siap menghadapi apapun yang sistem sudah tentukan. Jika tidak, ketertinggalan adalah konsekuensinya.
Bayangkan di 21’s century ini, kecanggihan tekhnologi sudah hampir menyamai otak manusia yang disebut AI (Artificial Intelligence). Namun, kita masih terbelakang dengan berkutat pada problema bahasa, yakni bahasa inggris.
Ada yang mengatakan bahwa ke-tidak mampuan berbahasa inggris adalah sebuah kecacatan pengetahuan. Dari sana saya bisa menyimpulkan bahwa bahasa inggris di era sekarang ini sangatlah penting, guna menghadapai persaingan dunia luar yang semakin ketat.
Selain karena menyukainya, saya juga sadar akan
persaingan kuat yang akan saya hadapai di luar sana nanti. Maka dari itu, saya setidaknya harus bisa bahasa inggris setidaknya 50%. Tidak ada yang memaksa kita
untuk harus lancar 100%. Setidaknya kita sudah punya sedikit pengetahuan
akan bahasa inggris, ketika kita harus dihadapkan pada suatu keadaan genting yang
mengharuskan kita capable dalam bahasa Inggris.
Yang menjadi pokok permasalahannya adalah, pada saat berbicara dalam bahasa kesaharian kita yakni menggunakan bahasa Indonesia, ada part di mana otak kita tidak bisa menemukan kata yang
ingin mulut kita ucapkan. Yang muncul di otak kita justru bahasa inggrisnya. Saya pribadi sangat sering mengalaminya.
Ternyata keadaan tersebut bukanlah unsur kesangajaan
yang seseorang ciptakan dengan sendirinya supaya terlihat keren dan pintar. Melainkan spontanitas kinerja otak yang mengalami fase acak untuk memunculkan
informasi dominan yang telah ia tangkap dan olah. Entah itu melalui indera penglihatan maupun
pendengaran.
Bagi yang belum paham kinerja otak manusia seperti apa,
barangkali akan menganggap bahwa itu adalah kesengajaan yang dibuat-buat hanya agar terlihat pintar dan berkelas saja. Saya cukup tau bahwa tipe orang yang seperti itu belum mengerti science.
“Hih, sok inggris!” katanya.
Padahal dengan berkata seperti itu, orang tersebut sudah membuktikan bahwa dirinya turun kelas. Tapi saya cukup tau bahwa dia tidak sebanding dengan saya. Pasti akan ada orang-orang yang seperti itu. Karena tidak mungkin dunia ini dipenuhi oleh orang-orang genuine saja.
Demi keseimbangan duniawi, baik-buruk, positif-negatif, hitam-putih pasti akan selalu ada. Kalemin saja. Tidak perlu menjadi reaktif pada hal-hal yang seharusnya tak perlu diambil pusing.
Salam Daebak!



Komentar
Posting Komentar