Titik Penemuan Diri

    


    Menurut ku menjadi dewasa berarti menjadi seseorang yang bisa menyadari banyak hal yang keliru. Menyadari bakat dan kemampuan sendiri. Termasuk menyadari bahwa hidup ku terlalu didorong oleh orang-orang sekitar ku. 

   Aku mengakui bahwa sebelum aku menjadi mature seperti sekarang, masa-masa immature ku sangat tidak terarah. Bahkan menentukan jalan sendiri saja aku tidak bisa, waktu itu. Aku selalu bertanya dan menanyakan aku ingin menjadi apa pada orang tua ku. Orang tua ku yang bahkan 100% belum tentu tahu bakat dan kemampuan ku di bidang apa. 

   Hidup tanpa bayangan apapun ternyata bisa sangat merugi. Aku sadar bahwa dulu aku tidak punya seseorang untuk aku look up at. Aku tidak punya gambaran tentang berbagai profesi. Pengetahuan ku hanya seputar menjadi seorang dokter, guru, dan tenaga kesehatan. 

   Untuk menjadi dokter, tentu sangat mustahil bagi perempuan yang punya kapasitas otak yang sangat limit seperti ku. Untuk menjadi seorang guru, saat itu aku tidak punya sama sekali ketertarikan terhadap duni ajar. Otomatis aku tidak punya pilihan lain selain menjadi tenaga kesehatan. Selain karena pilihan terakhir, aku begitu didukung menjadi seorang tenaga kesehatan oleh ibuku, mengingat paman dan kakak perempuanku pun di bidang yang sama. 

   Tanpa berpikir panjang, aku memutuskan untuk kuliah di bidang kesehatan. Saat kuliah, aku hanya mengikuti alur perkuliahan pada semestinya. Tanpa excited terhadap apapun. Tidak mengikuti organisasi apapun bahkan tidak terlalu berbaur dengan teman kampus. Anehnya dengan kepribadian seperti itu, aku tetap dikelilingi oleh teman-teman yang baik.

   Kuliah di bidang kesehatan tidak membuat ku ingin bekerja sebagai tenaga kesehatan. Ini sudah ku putuskan saat aku masih mahasiswi. Karena aku sadar, aku tidak cocok menjadi tenaga kesehatan. Bukan karena aku tidak punya skill menjadi tenaga kesehatan. Hanya saja saat itu aku ditampar oleh realita bahwa dengan bekerja sebagai tenaga kesehatan tidak cukup untuk mengubah keadaan ekonomi ku.

   Saat lulus kuliah, teman-teman ku berbondong-bondong untuk melamar pekerjaan di rumah sakit atau klinik impian mereka. Sedangkan aku, aku sibuk mencari pekerjaan dengan gaji per bulan yang cukup untuk menghidupi kehidupan sehari-hari ku dan setidaknya bisa untuk menabung. Saat itu menjadi realistis adalah prioritas. Bekerja sebagai tenaga kesehatan mungkin terlihat ‘keren’ di mata sosial. Tapi sebenarnya dari segi ekonomi tidak terlalu menghasilkan.

    Keputusan realistis ku tentu saja dibantah oleh ibuku. Karena biaya kuliah kesehatan tidaklah murah. Namun, aku tidak berhenti di situ sampai aku menemukan kerja pertamaku. Bekerja sebagai pegawai apotek dengan gaji 1.3 juta masih lumayan daripada bekerja sesuai jurusan ku dengan gaji 50 ribu sebulan.

    Hari-hari bekerja di apotek cukup menyenangkan karena aku bisa bertemu dengan berbagai macam orang dengan berbagai keluhan. Sampai suatu hari, seorang teman mengajak ku untuk bekerja ke Jepang sebagai tenaga kesehatan. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menyanggupi karena tujuan awal ku memang ingin keluar dari Indonesia dan bekerja di luar negeri sampai menghasilkan uang banyak. 

    Aku mencoba untuk realistis lagi. Dengan UMR di kotaku, mungkin akan butuh 10 tahun lebih sampai keadaan ekonomi ku benar-benar bisa stabil. Dan menurutku itu terlalu lama. Dengan keadaan negara yang tidak mendukung, akan sulit buatku untuk berproses sampai aku bisa di tahap sukses.

    Aku kemudian membulatkan tekad untuk ke Jepang. Jepang banyak memberiku waktu sendiri. Waktu di mana aku bisa memikirkan banyak hal, merenung, dan merenung lagi. Sampai aku tiba di kesimpulan bahwa aku tidak secocok itu bergelut dengan pasien. Aku tidak sesabar itu menghadapi seorang manusia. Dan aku merasa kepribadianku tidak baik untuk mengurus seorang pasien. Sehingga aku memutuskan untuk tidak lagi bekerja sebagai tenaga kesehatan yang harus mengurus orang sakit. 

    Tiga tahun di Jepang dan aku memutuskan kembali lagi ke Indonesia. Aku memberanikan diri untuk terjun ke profesi baru. Dengan modal mentalitas ‘pernah ke Jepang’ menuntunku bekerja sebagai tenaga pengajar. Dengan zero experience, tidak membuatku takut untuk memulai lembaran baru. Dan berkat lembaran baru tersebut, aku berhasil menemukan diriku lagi. 

    Aku yang selama ini tidak mempunyai skill berbicara di depan orang banyak, memaksaku belajar hari demi hari untuk terbiasa menjadi versi baru ku. Aku sempat khawatir, ragu, bahkan cemas. Tapi, perasaan tersebut hanyalah setitik saja. Karena ada rasa lain yang lebih aku rasakan. Perasaan yang di mana aku merasa inilah diriku yang selama ini aku cari. 

    Aku sempat hilang. Bahkan aku tidak tau arah hidupku. Tetapi, dengan berani membuka lembar baru dan mencoba versi lain diriku, aku menjadi tahu apa yang selama ini diriku butuhkan. Hari-hari menjadi tenaga pengajar membuatku belajar hal-hal baru setiap hari. 


    Menurutku mencoba hal baru bukan berarti membuang versi asli diri kita, tapi bisa jadi jalan untuk menemukan aslinya diri kita. 
     


Komentar

Postingan Populer