Tiga Tahun Di Jepang, Ini Yang Aku Dapatkan
Tiga tahun hidup di jepang rasanya lebih ke pemuasan diri daripada growth secara personal. Karena selama 25 tahun hidup di indonesia dengan keuangan yang terbatas, aku tidak bisa membeli atau mendapatkan sesuatu yang aku inginkan dengan segara. Tapi jepang mengubah itu semua secepat kilat.
Menurut ku jepang itu termasuk negara yang bisa mewujudkan mimpi seseorang. Kalau selama ini orang-orang mengenal amerika sebagai tempat untuk mewujudkan mimpi, namun jepang juga bisa menjadi salah satunya. Mungkin kebebasan di amerika tidak 100% bisa didapatkan di jepang. Berhubung jepang masih menjaga kultur dan tradisi budayanya, mereka masih memiliki manners yang lebih baik daripada amerika. Itulah yang membuat Jepang menjadi negara yang memiliki peraturan cukup ‘strict’ dengan warga yang menurut ku terlalu kaku.
Mereka (japanese) itu kaku. Bahkan ada yang sampai menyebut mereka suram. Kekakuan tersebut membuat mereka sampai tidak tau bagaimana cara tersenyum. Mereka tidak terlalu suka mengekspresikan diri mereka secara berlebihan. Ibaratnya harus tetap pada level yang sudah ditentutukan oleh society mereka. Itulah yang membedakan jepang dengan amerika.
Di amerika freedom of speech. Mau bereaksi dan mengekspresikan diri seperti apapun, tidak ada orang yang akan menganggap itu aneh. Tapi di jepang akan dianggap aneh dan out of manners mereka. Maka dari itu ketika mereka berada di ruang publik, mereka akan memasang muka flat (no expression at all).
That’s kinda suck.
Yes, it suck.
Aku sebagai orang yang datang dari negara asia tenggara yang punya kultur ‘ramah tamah is the key’ membuat ku harus mengurangi kapasitas senyum dan wajah ceria ku ketika berada di ruang publik yang mengharuskan aku berbaur dengan mereka. Dan penyesuaian itu terbawa sampai aku pulang ke indonesia.
Selain itu, aku juga tidak lagi menjadi seseorang yang ramah tamah yang tersenyum dan menegur sapa orang asing. Kemampuan itu berangsur-angsur menghilang dan lenyap di tahun ke tiga ku hidup di jepang. Dari sana aku merasa diriku menjadi lebih pendiam dan merasa kesulitan untuk memulai percakapan direct.
Sebuah penurunan personality. Setidaknya itu yang aku rasakan. Rasanya seperti ada sesuatu yang menahan tubuh ini untuk tetap di level yang semestinya. Namun di balik penurunan tersebut, tentu saja aku belajar berbagai hal di sana. Belajar untuk menjadi bersih di kehidupan sehari-hari contohnya.
Untuk mengembalikan kemampuan ku yang sudah lenyap tersebut, aku memutuskan untuk pulang berharap kemampuan itu bisa ku dapatkan lagi dari orang-orang indonesia yang terkenal hangat akan personalitynya. Ketika sudah mendapatkan itu kembali, tidak akan ku biarkan diriku untuk mengikuti society jepang yang suram itu lagi.



Komentar
Posting Komentar