Yang Saya Sadari Setelah Memutuskan Untuk Memilih
Dulu sewaktu saya kecil, saya sering mendengar orang-orang dewasa mengajarkan kepada kami anak kecil bahwa dalam berteman tidak boleh memilih-milih teman. Seingat saya, kalimat tersebut lebih sering saya dengar dari guru-guru SD saya ketimbang orang tua saya. Karena sewaktu saya SD, pembentukan genk di lingkungan sekolah begitu melejit pada masanya.
Meskipun guru-guru selalu menyerukan kami untuk tidak memilih-milih teman dan selalu berbaur dengan siapapun, sepertinya naluriah kami sebagai manusia yang suka berkelompok-kelompok pada akhirnya tetap saja membentuk koloni dengan adanya sebuah genk.
Sebagai seorang anak SD yang masih memiliki daya pikir yang lemah, dimana sel-sel otak saya masih belum banyak berkembang layaknya sekarang, respon saya terhadap kalimat tersebut tentunya sama seperti anak-anak SD normal lainnya. Kalimat “tidak boleh memilih-milih teman”, saat itu memang mengandung nuansa positif dan menjurus ke etiket baik. Berkat pemikiran tersebut, saya tumbuh menjadi anak yang tidak pernah menjauhi temannya yang terlihat culun dan suka dirundung meskipun teman-teman saya yang lainnya menjauhi mereka.
Saya dulu memang punya teman dekat satu sampai dua orang saja, tapi saya tidak pernah menyebutnya genk. Karena saya memang berbaur dengan siapa saja dan berteman dengan siapapun. Di dalam pikiran saya sebagai anak SD, yang terpenting adalah bermain lalu semuanya senang dan gembira. Jadi, selagi saya bisa bermain dan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, saya akan ikut bermain dengan siapa saja.
Setelah saya pikir-pikir, pola pertemanan seorang anak SD ternyata sesederhana itu. Dan ketika saya dewasa seperti sekarang, saya berubah menjadi pribadi yang menyadari banyak hal yang dulunya saya anggap lazim namun ternyata bisa menjadi masalah yang paling krusial bagi saya.
Kalimat “tidak boleh memilih-milih teman” tersebut dulunya saya imani namun sekarang menjadi pertanyaan besar buat saya.
Memangnya kenapa kalau memilih-milih teman?
Apakah saya harus berteman dengan orang-orang yang berpengaruh buruk buat saya sekalipun?
Apakah saya harus mengorbankan jati diri saya hanya agar disenangi oleh banyak orang?
Apakah saya harus berpura-pura menjadi orang yang bukan diri saya supaya orang-orang mau berteman dengan saya?
Jawaban saya untuk semua pertanyaan tersebut ternyata sudah saya lakukan jauh sebelum saya mengkritisi kalimat tersebut yang kemudian baru saya sadari sekarang. Saya secara natural menjadi diri saya sendiri yang ternyata ada banyak orang yang menganggap saya aneh, menganggap saya horor, menganggap saya apatis, yang intinya ada banyak orang yang tidak menerima saya sebagaimana apa adanya saya.
Sebaliknya, saya bersyukur saya masih mempunyai orang-orang yang memilih tetap berteman dengan saya. Karena saya percaya, orang-orang yang memilih saya sebaliknya adalah orang-orang pilihan saya. Terlebih lagi, saya tidak peduli kuantitas. Yang saya butuhkan adalah kualitas.
Saya setuju dengan kalimat “hidup adalah tentang pilihan”. Bukan hanya pertemanan. Memilih apapun itu. Memilih pakaian yang paling cocok, memilih sayur yang paling segar untuk dikonsumsi, memilih jalan yang bagus untuk dilewati. Pada dasarnya semua manusia ingin yang terbaik buat dirinya. Karena itulah saya perlu memilih apa pun yang terbaik buat diri saya.
Juga, ini bukanlah tentang diskriminasi. Layaknya mahluk hidup lainnya, saya sebagai manusia membutuhkan rasa aman dan nyaman. Maka dari itu, saya akan terus belajar untuk tidak ragu pun takut untuk memilih hal-hal yang sesuai dengan apa yang saya butukan untuk tetap menjadi pribadi yang utuh.



Komentar
Posting Komentar