Everyday One Mistake
Dulu sebelum aku keluar dari dunia ku, aku fikir dunia ku begitu luas dan penuh akan pengetahuan. Tapi ternyata dunia ku tidak lah seluas itu. Sebaliknya, dunia ku itu amat begitu sempit. Penuh akan keegoisan seorang anak muda yang begitu sok tahu.
Yang aku maksud dengan dunia ku adalah kamar ku sendiri. Yap, sebelum aku menjadi seorang pekerja yang sesibuk sekarang, aku terbiasa menghabiskan waktu ku di dalam kamar ku seharian. Hampir seharian penuh untuk melakukan banyak hal.
Hal-hal seperti berfikir, mengisi otak ku dengan berbagai bacaan, menulis, melatih komunikasi dan cara fikir ku, intinya aku gemar melakukan hal-hal yang menurut ku akan menjadikan ku seseorang yang bisa di cap sebagai orang yang pintar.
Konyol. Hal itu memanglah konyol. Namun aku tidak akan bohong bahwa rasa senang ketika aku bisa membuktikan diri ku di depan orang lain bahwa aku bisa di sebut pintar, dopamin nya bukan main layaknya seseorang yang sedang ng-fly ketika menenggak obat-obatan terlarang.
Diriku yang sudah sering kali mendapat pengakuan bahwa aku pintar ini, pada saat bersamaan menanggung beban yang rasanya begitu najis jikalau aku gagal. Aku harus berusaha mati-matian akan sesuatu supaya tidak gagal. Sampai pada akhirnya aku berada di fase kembali di serang.
Kini, diriku yang aku fikir berpengetahuan ini, keluar dari dunianya. Aku keluar ke dunia yang sebenar-benarnya luas. Ini bukan sekedar luas, tapi begitu luas sehingga aku merasa diriku tidak terlihat bahkan tidak terhitung sebagai seorang penghuni muka bumi ini.
Seiring bertambahnya usia ku, aku fikir aku akan menjadi lebih pintar, lebih logis, lebih kritis, dan lebih lebih lainnya. Namun setelah aku melewati fase dimana aku merasa diri ku paling benar, paling tau segalanya, dan paling idealis, sebaliknya aku merasa menjadi orang yang paling bodoh sedunia.
Dalam ranah pekerjaan, aku termasuk orang yang sering membuat kesalahan. Itu bahkan hampir setiap hari. Setiap hari selalu ada satu atau lebih kesalahan yang aku perbuat akibat dari kebodohan ku. Memang, manusia adalah makhluk yang paling wajar membuat kesalahan. Namun, mengapa aku begitu membenci diriku ketika berbuat salah? Apakah ada yang sama dengan ku?
Aku terbiasa dengan ego ku. Aku terbiasa dengan diriku yang membenci kegagalan pun kesalahan. Aku terbiasa tidak menerima sesuatu hal yang jomplang di hidup ku. Dan aku terbiasa akan kesuksesan orang lain. Begitulah dunia mengelilingi ku kala itu.
Sampai aku sadar, aku memanglah bukan orang yang pintar. Ternyata pengetahuan ku akan sesuatu masih se-minim itu. Kembali lagi kepada ego. Kala itu ego ku terlampau ikut campur. Ego ku sampai menciptakan halusinasi berat yang membentuk diri ku menjadi sosok yang angkuh.
Terlepas dari itu, aku pun tidak bodoh. Aku hanya tidak mengerti akan pembentukan manusia sebenarnya yang berasal dari berbagai pahatan kesalahan. Begitu juga dengan ku. Kesalahan yang aku buat membentuk sisi internal ku membuat ku memahami banyak hal.
Mungkin awalnya aku mengira salah itu amat begitu memalukan. Tapi setelah melihat realita sebab akibatnya, pelajaran yang bisa dipetik dari sebuah kesalahan melahirkan banyak pembelajaran hidup yang di luar nalar.



Komentar
Posting Komentar