Speak up or keep your mouth shut tU De Up



    Dulu saat umur saya berkisar 23-an istilah speak up sedang ramai digencar-gencarkan oleh para kalangan medialis, public figure, dan para content creator yang menggeluti bidang self development guna menghimbau anak-anak muda seperti saya ini untuk tidak takut menyuarakan suara mereka di publik. 

    

    Mereka mendorong anak-anak muda untuk tidak takut berpendapat, mengeluarkan apa yang ingin di katakan, atau apapun yang ada di pikiran maupun di benak kita dengan berbicara lantang tanpa harus khawatir akan penilaian dan kritikan seseorang.


    Namun, segila apapun mereka menggencarkan gerakan speak up tersebut, orang yang berkarakter introvert sudah pasti akan kesusahan untuk melakukannya. Karena hal tersebut bukanlah bagian dari zona mereka. 


    Coba saja bayangkan, ketika kalian bukan tipe orang yang pemarah tapi kalian diminta untuk mengeluarkan amarah kalian sambil teriak-teriak tidak jelas. Sudah pasti hal itu tidak nyaman bukan bagi kalian? Ini sama halnya dengan orang-orang yang tidak biasa mengeluarkan apa yang ada di benak/pikiran mereka jika mereka diminta harus mengeluarkannya. 


    Hal tersebut mungkin tidak akan mudah bagi mereka. Kalau pun mereka mau mengatakannya, mungkin akan memakan waktu. Dan ketika mengatakannya pun tidak pada sembarang orang. Tipe orang-orang yang seperti itu akan memilih orang dan tempat yang tepat untuk mengatakannya. Mereka memiliki banyak pertimbangan. Terlepas dari itu, mereka mungkin saja tipe orang yang pemikir.


    Mereka itu adalah saya sendiri. Sebenarnya saya bukanlah orang yang sepenuhnya berkepribadian introvert, tapi saya memiliki sisi tersebut. Bagi saya, saya tidak harus mengeluarkan semua yang ada di pikiran dan di benak saya, pun pendapat atau situasi yang sedang saya alami. 


    Kenapa saya harus mengatakannya? Apakah dengan mengatakannya orang-orang lantas mendengar saya lalu merangkul dan peduli dengan hidup saya? Tidak bukan? Ini bukan tentang saya membutuhkan orang yang peduli terhadap saya, tapi hanya saja hal itu memang tidak perlu dilakukan.


Aturannya hanyalah seperti ini,

“Orang-orang tidak benar-benar perduli dengan mu”.


    Terlepas dari aturan tersebut, saya memang bukan lah tipe orang yang akan mengatakan segalanya. Saya hanya akan berbicara ketika ada hal yang perlu saya katakan atau sampaikan saja. 


    Saya akan berpendapat ketika saya diminta untuk berpendapat. Ketika saya tidak di minta untuk berpendapat, maka tugas saya adalah keep my mouth to shut up and just listen. Saya cukup mendengarkan orang yang sedang berbicara dan tidak akan sekali-kali menyela mereka. Aturan dan etika dasarnya kan seperti itu.


    Silahkan speak up hanya jika kalian menginginkannya, jika kalian tidak ingin bahkan tidak nyaman melakukannya, just keep your mouth to shut up. Apalagi jika hanya sekedar mengatakan kesalahan orang lain lantas kalian menutup mata dengan kesalahan kalian sendiri, kalian tidak perlu speak up hanya untuk hal seperti itu. Cukup refleksi diri saja sambil memikirkan bagian mana yang harus kalian perbaiki pada diri kalian. Tentu saja hal itu juga berlaku buat diri saya sendiri.


    Tidak semua hal perlu dikatakan, karena ada hal-hal yang memang bersifat personal bagi orang itu sendiri pun ada hal-hal yang memang memiliki  arti ambiguitas. Lebih baik katakan apa yang perlu dikatakan saja. Berpendapat ketika diminta untuk berpendapat. Selebihnya keep your mouth to shut up. Karena secara tidak disengaja, terkadang mulut adalah penyebab awal dari sebuah masalah. 

Komentar

Postingan Populer