Live In Private Life
Sudah sebulan lebih semenjak aku memutuskan untuk menghapus akun instagram ku. Rasanya? Begitu tenang. Tanpa melebihkan-lebihkan, tapi dengan tidak memiliki instagram aku merasa tidak ada lagi hal yang selalu mendorong ku untuk melakukan sesuatu yang hanya bertujuan untuk memamerkan diri dan menciptakan kesan baik followers ku terhadap diriku.
Sekarang aku mulai berpikir, inilah yang dirasakan orang-orang yang sudah memutuskan untuk menutup akun instagram mereka.
“Sebuah ketenangan”
Entah datang dari mana rasa itu namun memang begitu tenang. Rasanya tidak ada lagi hal yang harus dikejar, seperti rasa buru-buru untuk harus di perlihatkan ke publik, rasa ingin semua orang secepatnya harus tau bahwa aku sudah melakukan hal “ini” atau mendapatkan “ini”.
Tidak ada lagi rasa itu. Semuanya menghilang dengan sendirinya yang kemudian menciptakan sebuah rasa ketenangan dalam diri. Oleh sebab itu ada beberapa fasilitas dalam hidup ini yang kita sebut private yang tidak lain bertujuan untuk mendapatkan sebuah ketenangan. Seperti private jet, private pool, private room, dan berbagai fasilitas private lainnya. Dan rata-rata semua fasilitas yang disediakan dalam kategori private membutuhkan dana yang tidak sedikit karena memang sebuah ketenanangan itu hal yang sulit untuk didapatkan. Harus ada yang dikorbankan. Jika ingin mendapatkan fasilitas private, yang dikorbankan adalah uang. Dan ketika ingin mendapatkan hidup yang private, hal yang harus dikorbankan adalah orang-orang yang sudah mengenal kita (kehilangan sebagian social life).
Aku jadi ingat sosok pria yang begitu banyak di idolakan oleh kaum perempuan karena kehidupannya yang begitu private meskipun ia adalah seorang public figure. Nicholas Saputra. Mas Nicho memang punya instagram namun tidak pernah memposting apapun tentang kehidupan pribadinya selain foto-foto pemandangan/alam yang ia potret sendiri. Pernah di sebuah acara talk show ia ditanya tentang bagaimana dia bisa begitu tertutup akan kehidupannya dan jauh dari berita-berita miring. Jawaban yang dilontarkan begitu sederhana,
“Ketika saya menjaga privasi saya, saya juga sebenarnya menjaga privasi kamu”.
Jawaban yang sangat on point.
Tidak disangka, menjalani hidup yang private ternyata ada begitu banyak manfaat yang bisa dirasakan untuk diri sendiri . Walaupun kehilangan orang banyak, aku sama sekali tidak terlalu memikirkan itu. Semakin dewasa, aku semakin ingin mempersempit lingkaran pertemanan ku dengan bersosialisasi dalam skala grup kecil. Aku tidak lagi membutuhkan grup besar yang orang banyak harus tau siapa aku. Keluarga dan teman terdekat saja sudah cukup bagiku.
Sebagai orang yang mencintai ketenangan dan mendambakan kedamaian, melindungi privasi diri adalah cara yang tepat untuk menjalani era yang penuh hingar bingar ini. Terlebih lagi aku didukung dengan lingkungan yang begitu menghargai privasi orang lain. Tinggal di lingkungan dengan orang-orang yang begitu mengerti bahwa “akan ada orang lain yang terganggu” semakin mengajari ku bahwa melindungi privasi diri dan orang lain itu sangatlah penting.



Komentar
Posting Komentar