Mungkinkah Hidup Yang Seimbang?

 

Beberapa hari terakhir ini sepertinya hidup ku sudah tidak terlalu terombang-ambing seperti sebelumnya. Dengan kata lain, tidak ada hal yang terlalu aku khawatirkan. Tidak seperti sebelumnya, ada beberapa hal yang membuat ku tidak tenang akan menjadi manusia, begitu juga menjalani hidup sebagai seorang manusia. 


Maksud ku…

Hal seperti keuangan adalah hal yang paling membuat ku merasa tidak berdaya. Karena sebelumnya keuangan ku sangatlah terbatas. Aku tidak bisa mendapatkan hal-hal yang aku ingin kan, termasuk mimpiku. Katanya untuk meraih mimpi itu aku harus ber uang. Lalu dari mana aku harus mendapatkan uang untuk meraih mimpi ku? Sementara aku tidak punya uang untuk membeli mimpi ku. Apakah mimpi memang seperti itu? Harus di beli?


Namun, di balik keterbelakangan keuangan ku, aku harus berpura-pura. Aku harus meng-sugesti pikiran ku bahwa tanpa uang yang cukup pun aku masih memiliki kesempatan untuk hidup layak. Aku tidak ingin terlalu gelisah atau bahkan cemas memikirkan segala hal yang tidak bisa aku raih hanya karena aku tidak memiliki uang. Aku tidak ingin menjadi selemah itu. 


Aku tidak menyangka, ternyata kepura-puraan ku dengan sendirinya membuat ku menjadi seseorang yang lebih bertahan. Bahkan menjadi seorang yang gigih. Dengan ke-gigihan yang aku punya aku terus meyakinkan kedua orang tua ku dan juga keluarga ku bahwa akan ada waktunya dimana Tuhan akan memperbaiki hidup ku. 


Dengan melewati begitu banyak proses, lelahnya batin ku menanggung harapan yang di ucapkan oleh keluarga ku, aku tahu-tahunya tiba di suatu panggung yang aku sebut “balance stage”. Sakit yang aku lalui, lelahnya jiwa dan batin ku menunggu, tiba-tiba Tuhan seolah-olah berbisik “selamat atas kesabaran mu selama ini via.. Sekarang nikmati ya buah dari kesabaran mu itu”. 


Siapa yang tidak akan menangis ketika hambanya dibisiki dengan halus seperti itu? 


Aku tahu, hidup pada titik terendah itu sangat memuakkan. Aku bahkan pertama kalinya membenci diriku sebagai seorang manusia ketika hidup ku berada di titik terendah seperti itu. Aku tahu rasanya ketika tidak ada yang bisa dilakukan ketika tidak punya uang. It suck’s. Kemiskinan secara tidak sadar membuat seseorang membenci hidupnya. Dan itu nyata.


Dan sekarang, aku perlahan-lahan menikmati apa yang Tuhan ku sudah sediakan. Di balik itu, ada kerja keras yang harus aku lakukan. Dan aku menikmatinya. Bahkan aku diberi bonus dengan didatangkannya seseorang yang membuat ku selalu ingin menemuinya ketika aku senggang. Tapi aku tau, bertemu setiap saat bukanlah hubungan yang sehat.


Dengan kata lain, di stage ini aku merasa hidup ku cukup seimbang. Aku tidak lagi mengkhawatirkan soal keuangan, aku makan dengan baik, aku beribadah dengan baik, aku memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan teman-teman sejawat ku, bahkan aku diberi kelebihan bagaimana mengontrol emosi-emosi yang aku miliki.


Menurut ku punya sikap controlling yang baik akan diri sendiri adalah suatu kelebihan yang jarang sekali orang miliki saat ini. Makanya aku merasa beruntung sekali ketika aku menjadi salah satu yang dibekali kelebihan itu. Emosi-emosi ketika sangat senang sekali, sedih sekali, takut sekali, tidak terlalu aku rasakan saat ini. Dengan kata lain, Senang secukupnya, sedih secukupnya, takut pun secukupnya.


Dan sekarang hal yang sedang aku fokuskan adalah fokus untuk melakukan apa yang bisa aku lakukan saat ini. Ya, saat ini saja. Tanpa memikirkan hari esok bahkan ke depannya. Dengan begitu, aku tidak perlu pusing-pusing kena overthinking yang seperti banyak orang rasakan akhir-akhir ini. 


Ketika sedang belajar, fokus belajar. Ketika sedang bekerja, fokus bekerja. Ketika sedang dating, fokus dating. Menurut ku, kunci hidup seimbang ya seperti itu. Hidup pada waktu saat ini. Dengan begitu hal yang aku fokus lakukan pada saat itu otomatis akan menjadi maksimal juga.


Thanks God ☺️


Komentar

Postingan Populer