Eksistensi Manusia = Berjuang

"Eksistensi manusia tidak akan pernah lepas dari perjuangan"

Setidaknya itulah kalimat pertama yang mencuat di kepala saya sesampai saya di negara yang bahkan saya tidak punya ketertarikan sama sekali akan negara tersebut.


Jepang.

Yang entah kenapa dari 7,8 milyar jumlah manusia yang ada di bumi ini, sep-per delapan dari mereka berkeinginan untuk pergi ke negara tersebut.

Memang, image Jepang dengan negara terbersih, rapi, maju, etos kerjanya yang tinggi, begitu tersampaikan dengan baik melalui produk dan karya-karya yang dihasilkan oleh mereka. 

Namun tidak begitu dengan saya. Entah mengapa saya mendapati bahwa Jepang hanyalah negara maju pada umumnya. Memang ada banyak hal yang bisa dipelajari dari mereka, tapi ada banyak hal juga yang tidak mesti di copy paste.

Tinggal di salah satu Prefektur yakni Prefektur Aichi yang tidak terlalu menonjol untuk dikunjungi oleh turis, di salah satu kota yang amat sangat sepi bagi saya, dengan penduduk yang tidak begitu banyak, membuat saya merasakan langsung bahwa hidup mu adalah kerja mu. Yang maksudnya, saya berada di sini semata-mata untuk bekerja. 

Dan memang benar. Tidak ada yang terlalu bisa dinikmati di sini. Hanya ada supermarket dan minimarket yang berkerumun untuk menguras kantong. 

Tidak heran jika rekan kerja saya tidak memiliki hobby. Mereka hanya bisa memilih berbelanja karena hanya ada hal tersebut yang menyenangkan untuk dilakukan setidaknya di kota yang sekarang saya tinggali. Dan menurut saya, itu bukanlah sebuah hobby. Tapi jalan terkahir ketika kamu tidak punya pilihan. 

Monoton dan kesepian. 

Setidaknya bukan saya sendiri yang merasakannya. Saya jadi tidak heran mengapa cara orang sini menghibur diri mereka sendiri terkesan ekstrem dan menjijikkan. 

Saya terbilang tidak begitu menyukai Jepang. Selain karena kehidupannya yang hambar, kesulitan bahasa membuat saya semakin meronta-ronta untuk berjuang 1000% harus lebih keras dari orang  pada umumnya. 

Bukan pilihan saya. Namun Tuhan memilih saya untuk menjadi manusia yang sesungguhnya. Tuhan menciptakan manusia selain untuk beribadah sebenarnya juga untuk berjuang. Keduanya bergandengan. Namun hanya satu saja yang diserukan. 

Keberadaan manusia di bumi ini jika tidak untuk alasan kerohanian berarti untuk keduniawian. Semata-mata untuk berjuang. Berjuang untuk tetap hidup adalah perjuangan yang paling dasar yang jarang sekali kita sadari.

Apapun yang manusia lakukan di dunia ini sebenarnya bentuk perjuangan. Dan itu sangat ragam. Bahkan ketika tidak melakukan apapun, kita tetap berjuang untuk bisa menghirup oksigen dan menghembuskan karbondioksida secara normal. 

Saya jadi sadar. Acara syukuran untuk menyambut kelahiran anak bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Namun, suatu bentuk penyambutan agar dia siap berjuang menghadapi kerasnya dunia. 

Menjadi ciptaan Tuhan yang paling sempurna memang suatu anugerah yang tiada tandingannya. Jika anugerah memiliki konotasi positif, maka dibalik anugerah tersebut ada hal yang harus dilakukan untuk membayarnya. Yakni berjuang. 





 




Komentar

Postingan Populer