Mentor? Perlu Gak Sih?
Sebagai seorang manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan maupun kekeliruan, terkadang membuat saya berfikir, "kok jadi manusia harus seburuk ini?". Setelah saya menyadari bahwa manusia memang diciptakan untuk berbuat salah, saya paham bahwa Tuhan memang tidak ingin memberikan kehidupan yang terlalu 'polos' untuk kita. Karena akan sangat membosankan.
RM BTS
Saya bisa bayangkan jika dunia ini penuh dengan orang-orang yang selalu sadar, tidak pernah khilaf, selalu berbuat kebaikan, pekerjaan seperti jurnalis dan polisi mungkin tidak pernah ada.
Sebenarnya ketika ada suatu pelencengan dari kehidupan, di saat itu pula hidup menjadi bervariasi. Pernah dengar tidak? Kalau hidup itu ada variannya? Kejahatan, keburukan, kekhilafan, kesedihan, ternyata itulah varian hidup. Warna warni kehidupan. Bayangkan kalau tidak ada semua itu, hidup bakalan plain. Manusia juga sepertinya tidak betah lama-lama tinggal di bumi.
Dari semua varian hidup tadi, manusia sebenarnya cenderung untuk ingin dikategorikan 'baik'. Maka dari itu, hampir semua manusia mempunyai pegangan hidup atau setidaknya orang yang dijadikan role model untuk kembali sadar, ketika dia telah merasa dirinya offside.
Pegangan hidup manusia tentu beragam. Mulai dari Al kitab, buku filosofi, para ilmuwan yang mempunyai pemikiran hebat, orang terdekat, bahkan seorang mentor. Intinya sesuatu yang diyakini/dianggap benar dan selaras dengan pemikiran-pemikiran yang dia punya.
Namun, hal-hal seperti Al kitab, buku, para ilmuwan hebat, orang yang kita kagumi, tidak sepenuhnya bisa menolong manusia untuk tetap di jalan kebaikan. Mengingat sifat mereka yang pasif dan bekerja hanya sebagai pengingat saja. Manusia terkadang lupa, bahkan abai pada pengingatnya jika dia dihadapkan pada kondisi terjepit.
Sepertinya pengingat saja tidak cukup bukan? Kita juga perlu seseorang yang memberikan kita input secara berkala. Entah dengan mentoring, coaching, ikut seminar, bahkan workshop. Keberadaan orang terdekat seperti orang tua, kakek nenek, para petuah yang sebelum kita sudah ada, juga tidak lepas dari peran mereka yang sering dianggap mentor melalui nasihat-nasihat yang diberikan.
Tapi sebenarnya "kita perlu mentor gak sih dalam hidup kita?"
Mentor menurut KBBI adalah pendamping. Mengutip dari beberapa sumber, mentor yakni seseorang yang mendampingi, memberikan masukan/input yang sudah ahli di bidangnya. Misalnya saja Seneca, seorang filsuf dan penulis terkenal. Seneca ditunjuk sebagai penasihat seorang kaisar karena pemikiran stoiknya yang mengutamakan kedamaian jiwa melalui kebajikan dan nalar.
"Lalu, apakah setiap manusia perlu seseorang seperti Seneca di dalam hidupnya?"
Menurut survei yang saya lakukan dengan mewawancarai beberapa orang, banyak diantara mereka menjadikan 'diri mereka sendiri' sebagai mentor mereka. Terlepas dari itu, mereka setidaknya punya seseorang yang mereka kagumi untuk sesekali berkaca atau sebagai media pengingat bagi diri mereka ketika berada di titik terendah kehidupan mereka.
Ketika saya ditanya kebutuhan saya akan mentor dalam hidup saya, saya pribadi membutuhkannnya. Tapi sejauh ini saya belum menemukan seseorang yang tepat sebagai mentor. Namun, saya mempunyai begitu banyak orang yang saya kagumi sekaligus tempat belajar termasuk para filsuf seperti Marcus Aurelius, penulis Mark Manson, dan influencer Gita Savitri Devi. Namun, di balik kebutuhan saya akan seorang mentor, di sisi lain saya terkadang merasa enggan untuk dinasehati.
Mengutip dari psikologi, ternyata manusia memang punya kecenderungan kurang suka dinasehati. Karena mereka merasa orang lain tidak benar-benar tau apa yang mereka rasakan dan telah lewati. Manusia tidak terlalu suka digurui. Saya pun merasakan itu. Sampai saya sadar mungkin bukan seorang penasehat yang saya butuhkan, tapi seseorang yang bisa mengimbangi saya.
Sebagian besar manusia akan lebih suka diajak sharing daripada hanya membiarkannya duduk, mendengarkan, dan menelan begitu banyak nasihat dan masukan. Oleh sebab itu, guru BP/BK tidak berpengaruh banyak pada perubahan perilaku siswa/i nya jika berbuat kesalahan. Metode dan pendekatan yang mereka gunakan belum tepat.
Manusia lebih suka jika diberikan ruang untuk berbicara. Ruang untuk merasa aman. Karena itu akan membuatnya merasa menjadi individu yang utuh. Sharing dan membuat kontak sepertinya hal yang lebih dibutuhkan dewasa ini.
Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak perlu mentor. Mentor akan dibutuhkan jika ingin melahirkan suatu output. Tergantung output dalam berkarir, mendapat beasiswa, atau ingin ahli dalam bidang tertentu. Mengingat sifat mentor sebagai pemberi input/masukan.
Saya juga tidak keberatan jika mentornya seperti Han Ji Pyeong di drama Start-Up. Di drama tersebut, kita bisa melihat peran seorang mentor seperti apa. Silahkan tonton dramanya jika berkenan.
Mentor untuk panduan hidup biar konsisten lurus-lurus saja dengan grafik yang statis sepertinya tidak terlalu bekerja. Kalaupun memang bekerja, itu setelah manusia melakukan suatu penyimpangan.


Next Ditunggu kak
BalasHapusKeren 👍
Thank you💜
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTernyata blogger bestie lokerku ini, pantes kemarin not your passion utk di luluskan . next dong 😁🤙
BalasHapus