Santai Aja Sih Sama Hidup

HIDUP ITU TENTANG MENUNGGU.

Begitulah kata Gong Yoo, seorang aktor korea selatan yang sudah berkepala empat namun masih bertahan dengan status singlenya ketika salah seorang fansnya bertanya kapan dia akan menikah. 

Gong Yoo

    Mungkin kalau keadaan saya seperti Gong Yoo, yang mempunyai karir melejit, finansial oke, mempunyai wajah yang rupawan, sudah pasti digandrungi banyak perempuan, saya juga akan mengatakan hal yang serupa. 

Memposisikan diri sebagai seorang pangeran yang duduk santai di singgasananya menunggu sang permaisuri datang. Sayang sekali saya tidak bisa. Berhubung keadaan saya berbeda 180° dengannya. Jadi saya agak kontra dengan pernyataan itu. 

Saya terbilang cukup ambisius. Ketika melihat sedikit peluang, saya tidak butuh berfikir lama untuk take an action. Saya orang yang tidak sabaran. Saya inginnya kalau bisa sekarang, lakukan sekarang. Karena saya sedikit benci dengan menunda dan menunggu. Itu mengganggu fikiran saya. Alhasil, dari semua karakter saya tadi, semesta sepertinya ingin menyadarkan saya. Sehingga saya harus berhadapan dengan kondisi yang sangat berkebalikan. 

Saya dihadapkan pada kondisi yang membuat saya harus menunggu sangat lama. Tidak hanya dalam satu perkara kehidupan saja, tapi merembes dalam semua aspek kehidupan saya. 

Saya yang tadinya ambisius mau tidak mau harus menjadi sedikit pasif. Saya yang tidak sabaran, harus menjadi super sabar. Menunggu menjadikan saya seseorang yang banyak berfikir. Before and after dari sesuatu. Efek jangka panjangnya. Saya menjadi memikirkan segalanya. Sampai  saya menjadi orang yang skeptis. 

Ditambah lagi, setelah membaca buku miliknya Ryan Holiday yang berjudul Ego Is The Enemy. Ada satu sub judulnya yang sebelum membaca isinya saja sudah semakin meruntuhkan ke-ambisiusan saya. 

Jangan terlalu bersemangat. 

Setelah membaca isinya, saat itu juga saya merasa tertampar sangat hebat. 

Antusiasme yang besar adalah sebuah penyakit jika tanpa harapan. 

Pekerjaan penting yang anda lakukan akan membutuhkan pertimbangan dan perhitungan. Bukan antusiasme yang berlebihan. Jangan naif. 

    Cukup nampol bukan? Untuk seseorang seperti saya ini? Terimakasih om Ryan atas tamparannya. Tidak tanggung-tanggung pula. 

    Saya tidak tau apakah memang sebagian besar anak muda yang berusia kisaran 18-23 tahun akan mengalami posisi puncak. Dimana semangatnya sedang berapi-api untuk mencapai tujuan hidup. Semangat yang membara. Bertarung sampai titik darah penghabisan.

    Setidaknya itu yang saya alami. Beberapa teman saya pun ada yang seperti itu. Mungkin hal yang normal pada masa puber? Atau mungkin saya hanya sengaja membuat pembelaan diri.

Terlepas dari hidup itu tentang menunggu atau tidak, saya fikir apa yang dikatakan om Gong Yoo ada benarnya juga. Gong Yoo menunggu dalam kehidupan asmaranya, sedangkan saya menunggu dalam kehidupan karir saya. WellFair enough. 

Disebutkan juga bahwa Eleanor Roosevelt membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya untuk bisa dinobatkan sebagai First Lady America yang dikenal berpengaruh dalam sejarah. Eleanor tidak menggebu-gebu. Justru ia dikenal karena kepandaiannya bersyukur dan sikap tenangnya yang luar biasa. 

Eleanor Roosevelt 

    Saya terbilang terlambat mempelajari sisi intrinsik kehidupan. Bahkan mungkin tertinggal. Andai saja saya tau lebih awal, saya suka membaca buku lebih awal, saya punya ke-ingin tahuan yang besar lebih awal, mungkin saya juga akan sadar lebih awal bahwa no need to be rush in life. Tidak perlu terburu-buru dalam hidup. 

    Dan benar saja. Kesadaran saya tadi perlahan menjadi dasar keyakinan yang harus saya selipkan dalam fundamental hidup saya semenjak hal itu juga selaras dengan apa yang diajarkan Buddha mengenai kebahagiaan. 

Untuk mendapatkan kebahagiaan sejati, manusia perlu memperlambat perburuan sensasi-sensasi kesenangan, bukan mempercepatnya. 

Saya juga menyadari bahwa setiap orang mempunyai garis waktunya masing-masing. Ada yang umur 19 sudah punya pendapatan puluhan juta. Sedangkan yang sudah umur 25 masih tidak ada tabungan apalagi reksadana. Ada lagi yang umur 28 masih berjuang mencari pekerjaan tetap. Dan banyak ragam macam ketimpangan hidup lainnya. 

Hidup terbilang tidak adil? Itu memang benar. Harus diterima. 

    Pernyataan yang disampaikan oleh kebanyakan motivator bahwa sukses harus pada usia muda, maaf saya harus mengatakan bahwa itu hanyalah pernyataan penuh nafsu yang terbilang tidak valid. Karena pada kenyataannya, ada banyak orang hebat di luar sana yang mencapai tujuannya pada umur yang terbilang sudah tidak muda lagi. 

    Lihat saja Joe Biden, menjadi presiden pada usia 79 tahun. Usia yang terbilang sudah tidak produktif lagi untuk melakukan aktivitas yang melibatkan kinerja otak ekstra. Memang seharusnya hidup itu mesti dibawa chill atau santai. 

Joe Biden

    Sikap tenang dan belajar untuk sedikit menunggu adalah kunci agar tetap waras pada masa yang penuh ke-tidak pastian ini. Agar supaya level anxiety tetap di ambang batas. Tanpa menghilangkan sikap tetap berusaha semampunya. 

Satu lagi. 

    Berhenti menjadikan standar kesuksesan orang lain untuk  menjadi tolok ukur kesuksesan kita juga adalah skill yang tidak kalah pentingnya untuk dimiliki. Karena setiap orang punya standar kesuksesannya masing-masing. Bersyukur dan chill adalah koentji. 



Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer