Buat apa sebenarnya resolusi?


  Dunia sudah menginjak 2022 tahun tapi masih ada sekian persen orang yang memasang resolusi untuk memulai hidupnya di tahun baru. I was like... memangnya perlu?

    Setelah melihat-lihat dan mengamati, makin tua dunia makin banyak juga orang yang sadar bahwa membuat resolusi tahunan itu sebenarnya tidak perlu-perlu amat kok. Karena sepengalaman mereka yang rutin membuat resolusi tahunan pada tahun-tahun sebelumnya, kebanyakan tidak terealisasi dan hanya menjadi omong kosong belaka. Memangnya resolusi itu apa sih? Kenapa pula kita harus punya resolusi hanya pada pergantian tahun saja? Apakah kita harus membuat resolusi tahunan?

    Menurut KBBI resolusi ialah keputusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan. Dikarenakan definisi tersebut terkesan kaku, orang-orang sekarang menyederhanakannya menjadi rencana tahunan. Rencana yang sekiranya akan dilakukan atau ingin direalisasikan dalam satu tahun kedepan. 

"Tahun ini aku pengen diet"

"Tahun ini aku pengen banyakin olahraga dan mulai hidup sehat pokoknya"

"Tahun ini aku pengen muncak ke rinjani"

"Tahun ini aku pengen mulai rajin menabung"

Dan beribu macam keinginan lainnya.

    Sebentar. Memangnya resolusi itu sama dengan keinginan? Kenapa ketika orang ditanya mengenai resolusi, jawaban mereka selalu dimulai dengan "aku pengen..." dibandiingkan dengan "resolusi ku..." atau "rencana ku..."? Apakah hanya sekedar reflek belaka atau memang kebanyakan dari kita sebenarnya masih belum terlalu paham dengan maksud dari resolusi itu sendiri?

    Menurut saya resolusi dan keinginan itu jelas berbeda. Singkatnya resolusi cenderung kepada sesuatu yang ingin kita lakukan dengan membuat ancang-ancang (rencana) secara detail dan sudah terfikirkan dengan matang. Sedangkan keinginan sesuatu yang masih bersifat abstrak dan cenderung ngawang-ngawang yang begitu dengan mudahnya kita ucapkan tanpa benar-benar kita fikirkan dan tidak punya landasan yang jelas kenapa kita ingin melakukannya. Resolusi selalu mempunyai konotasi positif. Sedangkan keinginan bisa positif dan negatif.

    Begitu memahami perbedaanya, saya bukannya malah semakin ingin membuat resolusi tapi malah berkata "untuk apa?". Iya untuk apa saya membuat resolusi jika seiring berjalannya waktu rencana bisa saja berubah, terhambat, bahkan tidak terealisasi sama sekali. Kita memang tidak tau dengan apa yang akan terjadi kedepannya. Nah! Justru karena tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya, yang mana sewaktu-waktu Tuhan bisa saja mengganti rencana yang kita buat dengan hal lain yang jauh di luar rencana kita. Jadi kenapa masih repot-repot membuat resolusi?

    Belum lagi sekarang ada istilah 'wishlist' yang disama-samakan dengan resolusi. Padahal perbedaannya sudah jelas nyata. Daftar keinginan yang 90% nya berisi daftar bualan diri sendiri. Saya pun kurang mengerti sejarah dan alasan terbentuknya resolusi tersebut. Siapa pertama kali pencetusnya. Karena sepengetahuan saya, orang-orang terdahulu kita tidak punya hal semacam itu.

    Memang seiring berkembangnya dunia, pasti akan muncul istilah-istilah baru dan hal-hal baru pula. Namun jika alasannya hanya untuk keliahatan keren karena masa depan tertata rapi dengan punya rencana hidup tahunan yang detail dan konkret, mendingan tidak usah. Bukannya apa, karena ada banyak orang yang di laur sana kecewa akan dirinya sendiri hanya kerena resolusi mereka yang tidak kunjung terealisasi meskipun sudah terususun begitu rapi nan detail. 

    Makin berkembangnya dunia bukannya makin buat orang sadar akan hal-hal esensial tapi malah membuat menyita perhatian dan waktu orang pada hal-hal yang mengada-ngada. Kompleksitas manusia memang tidak bisa ditebak. Akan terus ada hal-hal aneh seiring tuanya dunia. Dengan kata lain, semakin pintar orang-orang tapi juga akan semakin aneh. Itulah yang disebut paradox of life.  

    Daripada membuat resolusi tahunan, kenapa tidak fokus pada apa yang ada di depan dan yang terdekat kita dulu? Kalalu saya menyebutnya short term goal (goal jangka pendek). Jika ada sesuatu yang membuat kita tertarik dan ingin lakukan atau realisasikan dalam waktu dekat, tiga hari kemudian, minggu depan, atau bahkan bulan ini, yasudah, fokus dan kerahkan semua energi yang kita punya untuk melakukan itu menjadi nyata.  

    Ada ide project bagus hari ini ya tinggal lakukan hari itu juga. Ada walk interview pada perusahaan yang bagus minggu depan, ya siapkan diri dengan matang minggu ini. Ingin resign dari pekerjaan karena merasa tidak berkembang dipekerjaan itu, ya lakukan. Tapi kalau ini saya sarankan anda sudah punya back up-an untuk mengganti pekerjaan anda. Itulah yang disebut short term goal. Lakukan semua kemungkinan yang ada di depan mata. Ambil kesempatan itu selama masih ada dan bisa dilakukan. 

    Dengan adanya rencana jangka pendek, saya percaya bahwa kita akan jauh dari kata malas atau menunda-nunda. Karena gap waktu yang sempit akan lebih memicu adrenalin serta segala fungsi otak dan fisik kita untuk harus bekerja aktif. Kalian bisa bandingkan sendiri dengan gundukan resolusi tahunan yang berisikan blablabla di 'tahun ini'. Secara tidak langsung menciptakan procrastinating generation (generasi menunda-nunda). Sadar atau tidak, itu yang sudah terjadi.

    Saya jadi teringat salah satu quotes penulis terkenal yaitu Roald Dahl yang saya simpan begitu lama di handphone  saya, yang kurang lebih berkata,

"jika anda tertarik pada sesuatu apapun itu, lakukan dengan kecepatan tinggi. Rangkul dia dengan kedua tangan anda, peluk, cintai, dan di atas semua itu jadilah passionate akan hal itu. Karena kalau anget-anget kuku tidak bagus"

    Entah kenapa kata-kata itu melekat sekali di otak saya sampai sekarang. Mungkin itu sebabnya saya suka sekali membuat orang tua saya terkaget-kaget dengan kelakuan saya yang sering kali tiba-tiba melakukan sesuatu. Seperti yang saya bilang, goal jangka pendek. Jika saya tertarik akan sesuatu dan ada kesempatan, saya tidak tanggung-tanggung untuk segera melakukannya seperti quotes di atas selama itu baik buat saya dan berpengaruh buat orang lain. 

    Jadi bisa disimpulkan bahwa membuat resolusi tahunan itu sebenarnya bukan hal yang harus dilakukan untuk menyanbut hari dan tahun yang baru. Toh hanya berganti angka saja bukan? Tidak ada pengurangan atau pertambahan jumlah bulan maupun hari di dalamnnya. Bumi tetap berputar pada porosnya. Iklim dan musim juga akan sama saja. Yah intinya, dunia berubah karena hasil campur tangan manusia, tentunya dengan bantuan Tuhan. 

Do it now before you regret it.

    

Komentar

Postingan Populer