Budaya Ngajarin Bahasa Kotor
Sebagai
orang indonesia yang cukup tau tapi juga tidak sepenuhnya tau tentang
budaya-budaya di indonesia mulai dari budaya asli yang ada di suatu daerah,
sampai budaya yang di buat-buat oleh masyarakatnya sendiri tanpa ada landasan
yang jelas bahkan alasan yang tidak masuk akal a.k.a iseng-iseng doang, saya
pribadi memiliki keresahan terhadap budaya yang saya sebut (Bad Language Teaching Culture) terhadap
pendatang yang ada di suatu daerah tertentu di indonesia.
Dikarenakan
sifat over proud orang indoensia yang
sudah mengalir dalam diri mereka, mereka yang berada di suatu daerah tertentu sering
kali melampui hal-hal general lalu mengajari hal-hal nyeleneh bahkan tidak
berbobot pada orang-orang baru (pendatang) yang mendiami daerah mereka.
Kita
tau bahwa indonesia kaya akan budaya dan bahasa. Setiap daerah di indonesia
memiliki budaya dan bahasa yang berbeda-beda pula. Ketika seseorang berpindah
dari satu daerah ke daerah lain misalnya saja dari jawa ke sumatera, otomatis
dia akan beradaptasi pada budaya sumatera tanpa menghilangkan budaya jawa yang
dimilikinya. Mulai dari mempelajari tatanan masyarakat di sana, belajar
budayanya, sampai belajar bahasanya.
Namun,
ada satu hal yang tidak beres tentang orang-orang lokal di suatu daerah
tertentu, ketika mendapati ada orang baru yang mendatangi wilayahnya. Entah
mungkin karena orang indonesia mempunyai antusiasme yang tinggi terhadap orang
baru, atau memang hal tersebut sudah lumrah terjadi sehingga menjadikannya
sebagai budaya khas versi mereka. Entahlah, hal itu tidak masuk akal bagi saya.
Yup!
Mengajari bagaimana berkata-kata kotor, adalah hal yang saya maksud. Menurut saya, tidak ada value atau poin tersendiri yang akan didapatkan
ketika mengajari orang baru hal-hal yang tidak baik seperti bagaimana
mengatakan sumpah serapah.
Mungkin ada kepuasan tersendiri yang bisa didapatkan sebagai orang yang mengajari/memberi
tau. Karena bagi kebanyakan orang, hal itu adalah guyonan yang biasa dilakukan
untuk sekedar mengeratkan hubungan atau mengakrabkan diri satu sama lain. Tapi
apakah harus dengan cara konyol seperti itu? Apakah kita harus menciptakan keseruan
dengan cara yang norak?
Daripada memilih dengan cara seperti itu, walaupun konteksnya ‘seru’, saya yakin ada banyak cara lain yang lebih baik jika hanya ingin akrab dan menciptakan suasana yang tidak kaku dengan orang baru.
Saya percaya, untuk menciptakan
keseruan tidak melulu dengan hal yang konteksnya bercanda namun sebetulnya
mempunyai konotasi negatif.
But
again, setiap orang mempunyai definisi dan caranya masing-masing untuk memenuhi
kebutuhan dasarnya sebagai manusia, yakni bagaimana dia berinteraksi dengan
orang lain. Lalu apa poinnya saya menulis semua ini jika pada akhirnya semua
itu akan kembali pada diri masing-masing orang tersebut? Toh itu juga bukan di
bawah kendali saya?
Tulisan ini tidak semata-mata ingin mengajak orang-orang seyogyanya harus berbuat pada hal-hal yang positif. Tapi coba kita fikiran impact yang akan ditorehkan oleh sesuatu yang kita anggap seru namun negatif tersebut pada kancah sosial.
Ketika kita mengajari orang hal-hal negatif seperti bagaimana bersumpah serapah versi daerah kita, lalu orang tersebut membawa ke luar dan menjadi terbiasa menggunakannya, secara tidak langsung dia sudah menyebarkan sisi buruk versi daerah kita. Walaupun masing-masing daerah sudah pasti memilikinya.
Tetapi jika masih bisa, kenapa tidak kita ajarkan atau beri tau sesuatu yang unik atau yang khas dari daerah kita sendiri daripada mengajarinya berkata kotor? Agar supaya apa yang pendatang itu bawa, lalu bagikan dan sebarkan juga mempunyai gambaran positif buat daerah kita masing-masing. Namun sayang, banyak dari kita masih tidak peka akan hal sekecil itu.
Again, segala sesuatu akan selalu mempunyai
imperfection atau sisi ketidaksempurnaa. Begitu juga manusia. Terlepas dari itu saya hanya mencoba membagikan keresahan saya, yang mana tau bisa menjadi gerakan kecil untuk bisa membuat movement untuk menjadi
invidu yang lebih baik lagi kedepannya.



Komentar
Posting Komentar