Singkatnya Independent Woman

 

    Pernah dengar independent woman? Yep! Independent berasal dari suku kata bahasa inggris yang berarti sendiri, berdiri sendiri, atau bisa juga diartikan berjiwa bebas. Independent woman berarti wanita/perempuan yang berjiwa bebas a.k.a perempuan mandiri.

    Jika berbicara tentang kemandirian dalam konteks general, sering kali kita befikir bahwa seseorang tersebut sudah tidak bergantung pada siapapun termasuk pada orang tua, pun keluarga, apalagi orang lain. Hal itu tentu saja saya benarkan karena sudah sesuai dengan definisi yang disematkan oleh KBBI. Namun, jika boleh diartikan lebih spesifik lagi, makna mandiri sebenarnya tidak se-general itu.

    Mandiri adalah tidak bergantung pada orang lain, begitu versi KBBI. Maksud dari definisi tersebut mungkin lebih kepada mandiri dalam segi ekonomi yang mana kita sebagai manusia yang berperan sebagai anak sudah bisa menghasilkan uang sendiri tanpa meminta lagi pada orang tua.

“saya sejak SMA sudah mandiri sih, tidak minta lagi sama orang tua” tutur salah seorang teman saya.

    Karena memang mindset orang pada umumnya adalah mandiri itu ketika kamu sudah terbebas dari kata ‘meminta’ pada orang tua ataupun keluarga. Kita tidak lagi bergantung dalam segi ekonomi.

    Boleh-boleh saja kita sependapat dan membenarkan definisi mandiri yang telah disuguhkan oleh KBBI. Tapi jangan berhenti disitu saja. Karena makna mandiri sebenarnya sangatlah luas. Terlebih lagi jika mandiri sudah disangkut pautkan pada gender yakni perempuan. 

Perempuan yang kerap kali dianggap tidak bisa mandiri, diidentikkan dengan manusia manja, nge-feeling, menye-menye, dan berbagai macam stereotype lemah lainnya. Jika hanya berpatokan ada satu definisi itu saja, sepertinya belum bisa mencakup keseluruhan maksud yang seharusnya  dimengerti lebih luas. 

    Mandiri menurut perspektif saya, bukan hanya sekedar bebas dari ke-bergantungan seseorang dari segi finansial pada orang tuanya. Namun juga bebas dari segala atribut tuntutan yang orang tua, keluarga, kerabat, bahkan skala lebih luasnya yaitu sosial lekatkan pada kita. 

    Terlebih sebagai perempuan yang acap kali di setting serta dikotak-kotakkan sejak dia diperanakkan, menjadi perempuan mandiri terkesan sulit. Dalam kaca mata sosial, anggapan seperti perempuan harus dibimbing, dibina, diayomi, dijaga, dipelihara, dan di- di- seterusnya, sering kali menjadi penghalang bagi perempuan untuk mandiri. 

    Namun, jika berbicara dalam kaca mata manusia sebagai individu utuh, sebenarnya perempuan tidak perlu-perlu amat untuk di kawal se-strict itu. Justru Tuhan sangat mengehendaki setiap mahluknya untuk menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Dan hal tersebut sudah termaktub dalam Al Qur’an sendiri.

    Berbicara dari kacamata agama, Tuhan kita saja justru menghimbau seluruh mahluknya untuk bisa menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri/mandiri. Lalu kenapa society kita masih saja repot-repot membangun stigma-stigma aneh penyulit bagi perempuan untuk menuju apa yang Tuhannya anjurkan?

Apa iya manusia ingin melawan Tuhannya?

Jangan sampai kita sebagai manusia justru menuhankan kepintaran kita melalui pemikiran-pemikiran yang kita punya. Lantas kita malah mengkesampingkan anjuran Tuhan yang sudah ditegakkan sebelum manusia ada. 

    Setelah mengetahui definisi mandiri dari sisi manusiawi, independent woman juga mempunyai ciri khas terkait personalitynya. Perempuan mandiri cenderung tidak ingin merepotkan orang lain kecuali pada sesuatu yang benar-benar urgent. Itupun bukan karena dia lemah, tapi suatu kewajaran bagi manusia sebagai mahluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Hal tersebut tentunya juga berlaku pada laki-laki. 

    Dalam asmara, perempuan mandiri biasanya tidak perlu laki-laki yang dominan atau superior dari dirinya/sok jantan. Karena dia bisa memimpin dirinya sendiri sehingga laki-laki/pasangannya cukup tampil sebagai komplementer/pelengkap hidupnya saja. Perempuan mandiri bisa hidup tanpa pasangan. Namun tidak seindah bersama pasangan. Itulah poinnya. 

    Untuk menjadi indepedent woman sebenarnya sangatlah mudah jika saja perempuan diberikan sovereignty atau kemampuan untuk menetukan pilihannya sendiri. Tapi terkadang sulit karena kita masih terjerat oleh berbagai aturan yang sudah ada dalam tatanan masyarakat kita.

    Memang, perjalanan menuju suatu kebaikan yang sekalipun Tuhan kita kehendaki prosesnya tidaklah main-main. Terkadang kita mesti jatuh berkali-kali dulu guna membentuk jiwa kita menjadi jiwa yang lebih tangguh dari sebelumnya.

    Menjadi independent woman itu bukan pura-pura sok kuat seolah-olah kita tidak membutuhkan manusia lainnya. Karena sebagai mahluk sosial, pada dasarnya manusia memang saling bergantung satu sama lain kecuali kalau kamu hidup sendiri di goa. Mau tidak mau kamu harus mengandalkan dirimu sendiri. Sisanya biarlah semesta dan Tuhan yang bekerja.

    Independent woman bukan berarti menolak atau sampai tidak membutuhkan keberadaan laki-laki di dunia ini. Namun, sebagai gender kelas dua yang sering kali diragukan segala halnya oleh lawan jenisnya bahkan sesamanya, itu membuat perempuan tidak takut menunjukkan dirinya bahwa terlepas dia adalah minoritas tidak ada yang layak meremehkan dia sebagai manusia hanya karena gendernya selama dia masih sama-sama manusia.

Maka dari itu, tidak perlu takut menjadi independent dan berbeda. Karena kamu tidak sendiri, tapi bersama prinsip-prinsip mu.

Komentar

Postingan Populer