Ketika Perempuan Melawan Stigma

     

    Selama saya hidup, saya tidak pernah mendengar kalimat bahwa menjadi perempun itu mudah, sering kali saya mendengar kalimat bahwa “menjadi perempuan itu gak gampang", "menjadi perempuan itu ribet", "menjadi perempuan itu gak bebas", and a ton of prejudice that i've ever heard about being woman. 


    Ada pula yang sampai mengatakan " intinya menjadi perempuan itu gak enak". Namun kenapa saya malah sebaliknya? Menururt saya, menjadi perempuan itu gampang banget. Saya tinggal stop hidup di bawah ketiak stigma masyarakat aja dan menjadi diri saya seutuhnya. Perempuan bisa dan berhak melakukan apa saja yang ingin dia lakukan tanpa ada batasan dalam dirinya. Of course not a crime.

    Perempuan boleh berambisi, boleh bermimpi, boleh meraih pendidikan yang tinggi, dan tentu saja boleh melakukan apapun yang ingin dia lakukan as human being. Tapi stigma apa yang masyarakat  kita bangun selama ini? Stigma yang seolah-olah membatasi ruang gerak perempuan. Perempuan di minta untuk hidup sekedarnya dan harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Lalu lahirlah kalinat "kodrat perempuan" yang menyatakan bahwa dia harus memenuhi kodratnya layaknya seorang perempuan, bukan manusia.

    Masyarakat Indonesia sejak dulu sudah di cekokin dengan anggapan bahwa perempuan harus hidup dan menuruti apa yang budaya, nenek moyang, atau petuah-petuahnya katakan dan arahkan. Hal tersebut membuat masyarakat penerusnya menganggap itu adalah hal yang lazim dan budaya yang harus dilestarikan. Mereka benar-benar telah dibutakan oleh budaya-budaya yang mereka anut dan budaya yang mereka ciptakan sendiri untuk melenyapkan kebebasan perempuan berekspresi.

    Saya adalah seorang perempuan, yang mempunyai watak cukup keras kepala bahkan egois. Saya memang sering kali egois terutama pada mimpi-mimpi saya. Bagi seorang perempuan yang hidup di lingkungan yang mana masyarakatnya masih sangat-sangat patriarki, dengan kehidupan orang-orangnya yang masih sangat mempertahankan budaya-budaya nenek moyangnya, budaya yang memunculkan kehidupan stigma terhadap perempuan, saya bisa bilang bahwa saya bukanlah perempuan perduli akan stigma yang mereka ciptakan. I mean, why should I? 

    Saya perempuan yang tidak suka hidup sesuai dengan stigma yang masyarakat saya buat. Saya perempuan yang tidak suka memenuhi ekspektasi orang-orang di sekitar saya terhadap saya, karena saya tau tujuan hidup saya bukanlah itu. 

    Saya hanya ingin hidup sebagai manusia yang sesunggunya terlepas dari gender apa yang saya miliki. Dengan tidak memenuhi ekspektasi orang-orang disekitar saya dan tidak menjalani hidup sesuai dengan stigma yang masyarakat saya bangun, pada saat itu juga saya merasa saya bisa melewati beberapa step untuk menuju pada tujuan hidup saya yang sebenarnya. 

    Selama kurang lebih 20 tahun, saya sudah hidup di bawah stigma-stigma sampah yang di bangun oleh masyarakat di lingkungan saya, and it was really sucks. Stigma mereka tanpa sadar sudah menghambat saya untuk tetap bermimpi, mereka bahkan hampir membunuh cita-cita saya, dan secara tidak sadar hampir menghancurkan kehidun saya. Alasannya hanya karena saya seorang perempuan. 

    Mereka menganggap bahwa perempuan yang mempunyai mimpi atau mempunyai tujuan hidup selain menikah adalah perempuan yang tidak baik, menyimpang, dan menentang budaya mereka. Mereka kerap kali menekankan bahwa perempuan tidak boleh punya ambisi karena ambisi itu hanya dimiliki oleh laki-laki saja. 

    Lebih parahnya lagi, mereka mengangungkan budaya bahwa perempuan lebih baik menikah daripada berkarir. Mendengar itu semua, vena-vena saya menjadi membesar, kecepatan aliran darah saya menjadi abnormal, dan kinerja jantung saya menjadi tidak stabil. Personally, saya amat sangat membenci pemikiran tersebut. 

    Okay let's think about it rationally. Sejak kapan kepemilikan ambisi di bedakan oleh gender? Sejak kapan bermimpi adalah sesuatu yang menentang budaya dan hanya boleh dilakukan oleh kaum laki-laki saja? Dan sejak kapan menikah adalah tujuan terbaik bagi kehidupan seorang perempuan? Such a shallow mind. Bagi seorang perempuan yang keras kepala, saya tidak ingin tinggal diam dengan stigma-stigma sampah tersebut, dan tetap menjadi saya yang sebenarnya yaitu egois. Si egois yang tetap memprioritaskan mimpinya. 

    Tempo hari ibu saya meraskan penyesalan yang luar biasa bahkan kecewa sama saya, karena saya sudah menolak ajakan untuk menikah dengan laki-laki yang ibu saya idam-idamkan. Padahal saya lebih kecewa sama beliau. Bayangkan saja, ketika ibu kalian tau mimpi-mimpi kalian, tapi hanya perkara laki-laki yang diidamkannya mengajak anaknya untuk menikah, lantas mimpi anaknya diabaikan dan tidak berarti sama sekali. Hufffffft mum? come on... 

    Kejadian tersebut menjadi bahan cemooh dalam keluarga saya dan seakan-akan saya manusia kriminal yang sudah melakukan kesalahan fatal, dan penyimpangan sosial. Di saat seperti itu, saya tetap cool, saya tidak ambil pusing, bahkan tidak peduli sama sekali. Saya tidak takut jadi bahan cemooh atau di rundung dan tidak takut untuk dibenci. 

    Mereka tau apa tentang hidup saya? Tau apa mereka tentang tujuan hidup saya? Dari pada saya  menanggapi mereka, saya lebih memilih untuk fokus dengan tujuan awal saya dan mengabaikan penghalang-penghalang yang hendak merusak proses saya menuju goal saya.

    Bagi seorang perempun yang sudah dibebankan dengan tanggungan-tanggungan masa depan ini, bagaimana bisa saya tidak menjadi seseorang yang egois saat ini? Bagaimana bisa saya meninggalkan tanggung jawab saya sebagai anak yang ingin membantu orang tuanya? 

    Mungkin bagi orang-orang di luar sana, sangat mudah bagi mereka untuk menikah, mudah meminta orang untuk menikah, bahkan sampai menuntut orang untuk menikah, menikah, dan menikah. Seakan-akan menikah adalah solusi dan satu-satunya jalan keluar dari segala permasalahan hidup. Saya tidak bermaksud menentang pernikahan, tapi saya hanya ingin membuktikan bahwa menikah tidak selalu menjadi pilihan terbaik bagi kehidupan seseorang.  

    Sebagai perempun yang independen, saya jauh lebih memilih di cap egois, keras kepala, menyimpang bahkan di benci sekalipun dari pada saya harus mengubur mimpi saya dengan menikah. Jangan pernah menyerah untuk melawan stigma-stigma yang menghambat kalian untuk maju, karena kita hanya hidup sekali.

SALAM DAEBAK!

 


Komentar

Postingan Populer